Kamis, 31 Maret 2016

RBK (RENCANA BIMBINGAN KLINIK) DENGAN TEKNIK COACHING

PERENCANAAN BIMBINGAN KLINIK

A.    Identitas Mata Kuliah
Mata Kuliah                   :  KDPK
Kode Mata Kuliah         :  Bd.208
Pokok Bahasan              :  Kebutuhan Dasar Manusia
Sub Pokok Bahasan       :   Memberikan Injeksi Intracutan
Beban Studi                   :  3 SKS
Waktu                            :  30 menit
Pertemuan ke                 :  1
Hari                                :  Kamis, 7 Januari 2016
Ruang                             : R. Cempaka RSUD Kota Semarang
Koordinator                   : Herlin Fitiyanti, S.SiT, M. Keb
Pembimbing                   :  Frida Qiana, S.SiT, MH. Kes
Mahasiswa Bimbingan   :  Azkadina

B.     Tujuan Pembelajaran
1.      Tujuan Umum
Setelah mengikuti pembelajaran klinik ini peserta didik mampu melakukan injeksi intracutan.
2.      Tujuan Khusus
Setelah mengikuti proses pembelajaran klinik peserta didik mampu:
a.       Memahami tentang pengertian injeksi itracutan
b.      Memahami tujuan injeksi itracutan
c.       Memahami persiapan untuk injeksi itracutan
d.      Memahami langkah-langkah injeksi intracutan

C.    Metode dan Tekhnik Bimbingan
1.      Metode bimbingan klinik yang akan digunakan adalah Menthorship
2.      Teknik bimbingan yang digunakan adalah preconference, bedside teaching, post conference.

D.    Deskripsi Kasus
Mahasiswa D3 Kebidanan tingkat I1 semester I yang sedang menjalankan praktek klinik kebidanan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang di Ruang Cempaka dan mempunyai target melakukan injeksi intracutan. Mahasiswa tersebut sudah pernah melakukan sebelumnya saat praktek semester pertama.Mahasiswa tersebut di minta oleh pembimbing untuk melakukan injeksi intracutan dan dinilai sendiri oleh pembimbing dengan menggunakan check list injeksi intracutan.

E.     Rincian Kegiatan

No
Kompetensi
Jenis Kegiatan
Waktu
Metode/ Tekhnik
Hasil yang Diharapkan
1
Peserta didik mengetahui tujuan tindakan melakukan injeksi intracutan












a. Pembimbing klinik mengamati mahasiswa yang sedang menjelaskan tentang injeksi intracutan



b. Pembimbing klinik menilai tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa






c. Pembimbing klinik meminta mahasiswa untuk mempersiapkan alat

d. Pembimbing klinik mengamati mahasiswa yang sedang mempersiapkan langkah-langkah injeksi intacutan


1 mnt











1 mnt











2mnt







5 mnt
Coaching











Coaching











Coaching







Bedside teaching

Peserta didik mampu menjelaskan tentang injeksi intracutan kepada pasien









Peserta didik diharapkan mampu melakukan teknik injeksi intracutan sesuai dengan prosedur yang ada








Peserta didik mampu melakukan persiapan alat untuk injeksi intracutan:
1.     Pasien
2.     Alat-alat



Peserta didik mempersiapkan langkah-langkah injeksi intracutan.
1.      Memberikan informed consent pada pasien
2.      Mendekatan alat
3.      Menutup privasi
4.      Pasang perlak pengalas dan dekatkan bengkok
5.      Mencuci tangan 6 langkah
6.      Memakai APD
7.      Mendisinfektankan area yang akan dilakukan injeksi intracutan
8.      Suntikkan jarum secara intracutan, kulit ditegangkan dengan tangan kiri, lubang jarum menghadap keatas lalu aspirasi.
9.      Suntikan obat sampai permukaan kulit menggelembung, jarum dicabut dengan cepat.
10.  Beri tanda pada tempat penyuntikan
11.  Buang spuit kedalam sampah infeksius
12.  Rapi alat
13.  Merapikan pasien
14.  Cuci tangan
15.  Observasi penyuntikan selama 15 menit
16.  Dokumentasi tindakan
2
Mahasiswa mampu mereview tindakan yang telah dilakukan
Pembimbing mampu melakukan review tindakan yang telah dilakukan
15 mnt
Post Conference
Mahasiswa memahami penjelasan tentang prosedur injeksi intracutan

F.     Evaluasi
1.      Prosedur          : Coaching, bedsite teaching, postconference
2.      Jenis test          : skill, attitude, cognitive
3.      Bentuk                        : observasi
4.      Alat test          : SPO, checklist



G.    Referensi

1.    Potter dan Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik. Vol 2. Jakarta: EGC
2. Rocca, et.al. 1998. Seri Pedoman Praktis: Terapi Intravena. Edisi 2. Jakarta: EGC
3.       Mubarok,Kusyati, Eni. dkk. 2006. Keterampilan  dan  Prosedur laboratorium. Jakarta. EGC. Hal:267
4.      Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007.Buku Ajar: Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EG. Hal:92-94


5.      Lampiran
1.      Materi tentang injeksi intracutan.
2.      Kontrak belajar mahasiswa bimbingan.
3.      Lembar check list tentang intracutan.


Lampiran
Materi
(Injeksi Intracutan )

A.    Pengertian

Pemberian cairan melalui infuse adalah pemberian cairan yang diberikan pada pasien yang mengalami pengeluran cairan atau nutrisi yang berat. Tindakan ini membutuhkan kesteril-an mengingat langsung berhubungan dengan pembuluh darah. Pemberian cairan melalui infus dengan memasukkan kedalam vena (pembuluh darah pasien) diantaranya vena lengan (vena sefalika basal ikadan median akubiti), pada tungkai (vena safena) atau vena yang ada dikepala, seperti vena temporalis frontalis (khusus untuk anak-anak).

1.    Definisi Pemasangan Infus
Pemasangan infus merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk memungsi vena secara transcutan dengan menggunakan stilet tajam yang kaku dilakukan dengan teknik steril seperti angeocateter atau dengan jarum yang disambungkan dengan spuit (Eni K, 2006). Pemasangan infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin ke dalam tubuh pasien (Darmawan, 2008).
Sedangkan ifus adalah memasukkan cairan dalam jumlah tertentu melalui vena penderita secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu (Azwar, 2008). Sementara itu menurut Lukman (2007), pemasangan infus intravena adalah memasukkan jarum atau kanula ke dalam vena (pembuluh balik) untuk dilewati cairan infus/pengobatan, dengan tujuan agar sejumlah cairan atau obat dapat masuk ke dalam tubuh melalui vena dalam jangka waktu tertentu. Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pemasangan infus adalah sebuah teknik memasukkan jarum atau kanula kedalam vena untuk memasukkan cairan infus kedalam tubuh.

2.    Tujuan Pemasangan Infus
Tujuan utama terapi intravena adalah mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral, mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit, memperbaiki keseimbangan asam basa, memberikan tranfusi darah, menyediakan medium untuk pemberian obat intravena, dan membantu pemberian nutrisi parental (Hidayat, 2008).

3.    Keuntungan dan Kerugian
a.Keuntungan; Keuntungan pemasangan infus intravena antara lain: Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat, absorbs total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan, kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik data dipertahankan maupun dimodifikasi, rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuscular atau subkutan dapat dihindari sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis.
b.Kerugian; Kerugian pemasangan infus intravena adalah: tidak bisa dilakukan “drug recall”  dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi, control pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speed shock” dan komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu: konmtaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu, iritasi vascular, misalnya flebitis kimia, dan inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.

4.    Lokasi Pemasangan Infus
Menurut Perry dan Potter (2005), tempat atau lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi intaravena.  Daerah tempat infus yang memungkinkan adalah permukaan dorsal tangan (Vena supervisial dorsalis, vena basalika, vena sefalika), lengan bagian dalam (vena basalika, vena sefalika, vena kubital median, vena median lengan bawah, dan vena radialis), permukaan dorsal (Vena safena magna, ramus dorsalis).
Menurut Dougherty, dkk, (2010), Pemulihan lokasi pemasangan terapi intravena mempertimbangkan beberapa factor, yaitu:
a.       Umur pasien: misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat penting dan mempengaruhi beberapa lama intravena terakhir
b.      Prosedur yang diantisipasi: misalnya jika pasien harus menerima jenis terapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pemedahan, pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh apapun
c.       Aktivitas pasien: misalnya gelisah, bergerak, tak bergerak, perubahan tingkat kesadaran
d.      Jenis intravena: jenis larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering memaksa tempat-tempat yang optimum (misalnya hiperalimenasi adalah sangat mengiritasi bena-vena perifer
e.       Durasi terapi intravena: terapi jangka panjang memerlukan pengukuran untuk memelihara vena; pilih bena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-hati, rotasi sisi pungsi dari distal ke proksimal (misalnya mulai di tangan dan pindah ke lengan)
f.       Keetersediaan vena perifer bila sangan sedikit vena yang ada, pemilihan sisi dan rotasi yang berhati-hati menjadi sangat penting; jika sedikit vena pengganti
g.      Terapi intravena sebelumnya: flebitis sebelumnya membuat vena menjadi tidak baik untuk digunakan, kemotrapi sering membuat vena menjadi buruk (misalnya mudah pecah atau sklerosis)
h.      Pembedahan sebelumnya: jangan gunakan ekstremitas yang terkena pada pasien dengan kelenjar limfe yang telah diangkat (misalnya pasien mastektomi) tanpa izin dari dokter
i.        Sakit sebelumnya: jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien dengan stroke
j.        Kesukaan pasien: jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk sebelah kiri atau kanan dan juga sisi.

5.    Cairan Infus
Berdasarkan osmolalitasnya, menurut Perry dan Potter (2005), cairan intravena (infus) dibagi menjadi 3, yaitu:
a)             Cairan ersifat isotonis: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairan mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Meiliki resiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongresif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
b)        Cairan bersifat hipotonis: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (kosentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialysis) dalam terapi deuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetic. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakarnial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
c)        Cairan bersifat hipertonis: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urine, dan mengurangi edema bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5% + Ranger- Lactate.




6.    SOP Pemasangan Infus
Pelaksanaan dalam pemasangan infus harus dilaksanakan sebaik-baiknya guna menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Secara teori menurut Smith (2010) Standar Operatin Prosedure (SOP) dalam pemasangan infus, yaitu:
1.             Persiapkan alat dan bahan seperti tiga buah potongan plester sepanjang 2,5 cm. belah dua salah satu plester sampai ke bagian tengah, jarum atau kateter, kapas alcohol atau antiseptik.
2.             Sambungkan cairan infus dengan infus set terlebih dahulu dan periksa tidak ada udara pada infus set.
3.             Pasang torniket pada daerah proksimal vena yang akan dikaterisasi 60-80 mmHg.
4.              Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.
5.             Pilih vena yang akan dilakukan pemasangan, untuk anak-anak lakukan teknik transiluminasi untuk mendapatkan vena.
6.             Dengan kapas alcohol atau antiseptik yang tepat, bersihkan tempat inersi dan biarkan hingga mongering.
7.             Dorong pasien untuk tarik nafas dalam agar pasien relaksasi dan nyaman.
8.             Masukkan kateter ke vena sejajar dengan bagian terlurus vena, tusuk kulit dengan sudut 30-45 derajat, setelah keluar darah pada ujung kateter, tarik sedikit jarum pada kateter, dorong kateter sampai ujung, dan ditekan ujung kateter dengan 1 jari.
9.              Lepaskan torniket.
10.         Adapun Standar Operating Prosedur (SOP) memasang selang infus di RSUD Tais adalah:
11.          Cuci tangan
12.          Dekatkan alat
13.         Jelaskan kepada klien tentang prosedur dan sensasi yang akan dirasakan selama pemasangan infus.
14.          Atur posisi pasien/berbaring.
15.         Siapkan cairan dengan menyambung botol cairan dengan selang infus dan gantungkan pada standar infus
16.          Menentukan area vena yang akan ditusuk
17.          Pasang alas
18.         Pasang tourniket pembendung + 15 Cm di atas vena yang akan ditusuk
19.          Pakai sarung tangan
20.          Disinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm
21.          Tusukan IV catheter ke vena dengan jarum menghadap ke jantung
22.          Pastikan jarum IV masuk ke vena
23.          Sambungkan jarum IV dengan selang infus
24.          Lakukan fiksasi ujung jarum IV di tempat inersi
25.          Tutup area inersi dengan kasa kering kemudian plester
26.          Atur tetesan infus sesuai program medis
27.          Lepaskan sarung tangan
28.         Pasang label pelaksana tindakan yang berisi: nama pelaksanan, tanggal dan jam pelaksana
29.          Bereskan alat
30.          Cuci tangan
31.         Observasi dan evaluasi respon pasien, catat pada dokumentasi keperawatan.
7.    Komplikasi Pemasangan Infus
Pemasangan infus intravena diberikan secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama tentunya akan meningkatkan terjadinya komplikasi. Komplikasi dari pemasangan infus yaitu flebitis, hematoma, infiltrasi, trombiflebitis, emboli udara (Hinlay, 2006).


a.    Flebitis
Inflasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah inersi/penusukan atau sepanjang vena, nyeri atau rasa lunak pada area inersi atau sepanjang vena dan pembengkakan.
b.   Infiltrasi
Infiltaris terjadi ketika cairan IV memasuki ruang subkutan di sekililing tempat fungsi vena. Infiltrasi ditunjukkan dengan adanya pembengkakan (akibat peningkatan cairan di jaringan), palor (disebabkan oleh sirkulasi yang menurun) di sekitar area inersi, ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara nyata. Infiltrasi mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada tempat yang sama di ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih  dipercaya untuk memastikan infiltrasi adalah dengan memasang torniket di atas atau di daerah proksimal dari tempat pemasangan infus dan mengencangkan torniket tersebut secukupnya untuk menghentikan aliran vena. Jika infus tetap menetes meskipun ada obstruksi vena, berarti terjadi infilrasi.
c.   Iritasi vena
Kondisi ini ditandai dengan nyeri selama diinfus, kemerahan pada kulit di atas area insersi. Iritasi vena bisa  terjadi karena cairan dengan pH tinggi, pH rendah atau osmolaritas yang tinggi (misalnya: Phenytoin, voncomycin, eritromycin dan nafellin).
d.   Hematoma
Hematoma terjadi sebagai akibat kebocoran darah ke jaringan di sekitar area inersi. Hal ini disebabkan oleh pecahnya vena yang berlawanan selama penusukan vena, jarum keluar vena, dan tekanan yang tidak sesuai yang diberikan ke tempat penusukan setelah jarum atau kateter dilepaskan. Tanda dan gejala hematoma yaitu ekimosis, pembengkakan segera pada tempat penusukan, dan kebocoran darah pada tempat penusukan.
e.   Tromboflebitis
Tromboflebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena. Karakteristik Tromboflebitis adalah adanya nyeri yang terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman dan pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan leukositosis.
f.    Trombisis
Trombisis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena, dan aliran infus berhenti. Trombisis disebabkan oleh injuri sel endotel dinding vena, pelekatan platelet.
g.   Occlusion
Occlusion ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika botol dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada area pemasangan/insersi. Occlusion disebabkan oleh gangguan aliran IV, aliran balik darah ketika pasien berjalan, dan selang diklem terlalu lama.
h.   Spasme Vena
Kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kulit pucat di sekitar vena, aliran berhenti meskipun klem sudah dibuka maksimal. Spasme Vena bisa disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena oleh obat atau cairan yang mudah mgiritasi vena dan aliran yang terlalu cepat.
i.    Reaksi Vasovagal
Digambarkan dengan klien tiba-tiba terjadi kollaps pada vena, dingin, berkeringat, pingsan, pusing, mual dan penurunan tekanan darah. Reaksi vasovagal bisa disebabkan oleh nyeri kecemasan.

j.    Kerusakan Syaraf, tendon dan ligament
Kondisi ini ditadai oleh nyeri ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi otot. Efek lambat yang bisa muncul adalah paralysis, mati rasa dan deformitas. Kondisi ini disebabkan oleh tehnik pemasangan yang tidak tepat sehingga menimbulkan injuri di sekitar syaraf, tendon dan ligament.



















KONTRAK BELAJAR

Nama               : Azkadina
Nim                 :1504091
Tempat            : Ruang Cempaka
Topik               : Kebutuhan Dasar Praktek Klinik
Sub Topik        :Injeksi Intracutan

Tujuan Umum
Tujuan Khusus
Sumber
Strategi Pencapaian
Kriteria Penilaian

Setelah mengikuti pembelajaran klinik ini peserta didik mampu melakukan tindakan pemasangan infus sesuai deng prosedur

Setelah mengikuti proses pembelajaran klinik peserta didik mampu:
a.       Peserta didik mengetahui tujuan tindakan melakukan pemasangan infus
b.      Mahasiswa mampu mereview tindakan yang telah dilakukan
  1. Potter dan Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik. Vol 2. Jakarta: EGC
2.      Rocca, et.al. 1998. Seri Pedoman Praktis: Terapi Intravena. Edisi 2. Jakarta: EGC
  1. Mubarok, Kusyati, Eni. dkk. 2006. Keterampilan  danProsedur laboratorium. Jakarta. EGC. Hal:267
  2. Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007.Buku Ajar: Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EG. Hal:92-94

a.    Melakukan studi pustaka sebelum terjun ke lahan praktek
b.   Diskusi dengan dosen pembimbing dan pembimbing klinik
c.    Bed side teaching
a.       Penilaian penampilan dengan checklist
b.      Laporan pendokumentasian

Semarang,  07 Januari  2016














DAFTAR CHECKLIST SPO

Nama               : Azkadina
NIM                : 1504091
Metode            : Coaching
Kasus              : Melakukan pemasangan infus

No
ASPEK YANG DINILAI
SKOR
A
SIKAP DAN PERILAKU
YA
TIDAK
1
Teruji komunikatif memperkenalkan diri dengan pasien


2
Teruji menyampaikan tujuan dan prosedur tindakan


3
Teruji bersikap sopan


4
Teruji bersikap cekatan



Score: 6


B
PERALATAN


1
Sarung tangan (handscoon) 1 pasang


2
Spuit 1 ml


3
Kom tertutup


4
Abocath (sesuai ukuran)






5
Kapas alkohol


6
Torniquet







7
Perlak dan pengalas


8
Bengkok 1 buah


9
Pulpen


10
Aquabidest


11
Kapas alkohol


12
Obat yang dibutuhkan





Score : 12


B
PROSEDUR KERJA


1
Pasang perlak pengalas












2
Tutup saluran pada selang infus


3
Tusuk saluran infus


4
Gantungkan botol cairan pada standar infus


5
Isi tabung reservoir infus


6
Alirkan cairan hingga tidak ada udara dalam selang


7
Atur posisi pasien


8
Pasang perlak dengan pengalasnya


9
Pilih vena yang akan di insersi


10
Pasang torniquet 5 cm dari arah yang akan di insersi


11
Pakai Handscone


12
Bersihkan kulit dengan kaps alkohol


13
Pegang abocate masuk ke intra vena


14
Sambungkan dengan selang infus


15
Lakukan piksasi


16
Desinfeksi area tusukan dan tutup dengan kasa steril


17
Atur tetesan cairan infus sesuai program



Score : 17




Nilai  :          Jumlah item yang dilakukan    x 100
                        Total item

Keterangan:                 Ya = dilakukan dengan benar
Tidak = tidak dilakukan
Isilah dengan tanda (v) bila dilakukan
Isilah dengan tanda (x) bila tidak dilakukan


Semarang, 07 Januari 2016
Pembimbing



----------------------------------





CHECKLIST POST CONFERENCE

Nama               : Azkadina
NIM                : 1504091
Metode            : Coaching
Kasus              : Melakukan injeksi intracutan

No
Kegiatan
YA
TIDAK
1
Pembimbing klinik menanyakan perasaan peserta didik setelah bed site teaching.
v

2
Pembimbing klinik menanyakan peserta didik tentang attitude saat contact pada pasien.


3
Pembimbing klinik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya
v

Nilai:      Jumlah item yang dilakukan    x 100
                        Total item

Keterangan:                 Isilah dengan tanda ( v ) bila dilakukan
Isilah dengan tanda (x) bila tidak dilakukan
Ya       = dilakukan dengan benar
Tidak   = tidak dilakukan








FORMAT PENILAIAN PRAKTEK BIMBINGAN KLINIK
METODE COACHING PEMASANGAN INFUS

NO
Aspek Penilaian
Nilai
Bobot
N x b
1
Preconference




a.    Ketepatan waktu sesuai perencanaan bimbingan

10


b.    Kesesuaian perencanaan kegiatan CI pada saat preconference

30

2
Bed Side Teaching




a.    Informedconsent pada pasien

10


b.    Penilaian kesesuaian tindakan berdasarkan SPO

20

3.
Postconference




a.    Ada refleksi

5


b.    Penilaian CI

25


Keterangan:
Kolom nilai diisi dengan angka 0 atau 1
0 = jika tidak sesuai
1 = jika sesuai



Tidak ada komentar:

Posting Komentar