PERENCANAAN BIMBINGAN
KLINIK
A.
Identitas Mata Kuliah
Mata Kuliah : KDPK
Kode Mata Kuliah : Bd.208
Pokok Bahasan : Kebutuhan
Dasar Manusia
Sub Pokok Bahasan : Memberikan
Injeksi Intracutan
Beban Studi : 3 SKS
Waktu : 30 menit
Pertemuan ke : 1
Hari : Kamis,
7 Januari 2016
Ruang : R. Cempaka
RSUD Kota Semarang
Koordinator : Herlin Fitiyanti, S.SiT, M. Keb
Pembimbing : Frida Qiana, S.SiT, MH. Kes
Mahasiswa
Bimbingan : Azkadina
B.
Tujuan Pembelajaran
1.
Tujuan Umum
Setelah mengikuti pembelajaran klinik
ini peserta didik mampu melakukan injeksi
intracutan.
2.
Tujuan Khusus
Setelah mengikuti
proses pembelajaran klinik peserta didik mampu:
a.
Memahami tentang
pengertian injeksi itracutan
b.
Memahami tujuan injeksi itracutan
c.
Memahami persiapan untuk injeksi itracutan
d.
Memahami
langkah-langkah injeksi intracutan
C.
Metode dan Tekhnik Bimbingan
1.
Metode bimbingan klinik
yang akan digunakan adalah Menthorship
2.
Teknik bimbingan yang
digunakan adalah preconference, bedside teaching, post conference.
D.
Deskripsi Kasus
Mahasiswa D3 Kebidanan tingkat I1 semester I yang sedang
menjalankan praktek klinik kebidanan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
di Ruang Cempaka dan mempunyai target melakukan injeksi intracutan.
Mahasiswa tersebut sudah pernah melakukan
sebelumnya saat praktek semester pertama.Mahasiswa tersebut di minta oleh pembimbing untuk
melakukan injeksi intracutan dan dinilai sendiri oleh pembimbing dengan menggunakan
check list injeksi intracutan.
E.
Rincian Kegiatan
|
No
|
Kompetensi
|
Jenis Kegiatan
|
Waktu
|
Metode/ Tekhnik
|
Hasil yang Diharapkan
|
|
1
|
Peserta
didik mengetahui tujuan tindakan melakukan injeksi intracutan
|
a. Pembimbing
klinik mengamati mahasiswa yang sedang menjelaskan tentang injeksi
intracutan
b. Pembimbing
klinik menilai tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa
c. Pembimbing
klinik meminta mahasiswa untuk mempersiapkan alat
d. Pembimbing
klinik mengamati mahasiswa yang sedang mempersiapkan langkah-langkah
injeksi intacutan
|
1
mnt
1
mnt
2mnt
5
mnt
|
Coaching
Coaching
Coaching
Bedside
teaching
|
Peserta
didik mampu menjelaskan tentang injeksi intracutan kepada pasien
Peserta
didik diharapkan mampu melakukan teknik injeksi intracutan sesuai dengan
prosedur yang ada
Peserta
didik mampu melakukan persiapan alat
untuk injeksi intracutan:
1.
Pasien
2.
Alat-alat
Peserta
didik mempersiapkan langkah-langkah injeksi intracutan.
1.
Memberikan informed consent pada pasien
2.
Mendekatan alat
3.
Menutup privasi
4.
Pasang perlak pengalas dan dekatkan bengkok
5.
Mencuci tangan 6 langkah
6.
Memakai APD
7.
Mendisinfektankan area yang akan dilakukan injeksi
intracutan
8.
Suntikkan jarum secara intracutan, kulit ditegangkan
dengan tangan kiri, lubang jarum menghadap keatas lalu aspirasi.
9.
Suntikan obat sampai permukaan kulit menggelembung, jarum
dicabut dengan cepat.
10. Beri tanda
pada tempat penyuntikan
11. Buang
spuit kedalam sampah infeksius
12. Rapi alat
13. Merapikan
pasien
14. Cuci
tangan
15. Observasi
penyuntikan selama 15 menit
16. Dokumentasi
tindakan
|
|
2
|
Mahasiswa
mampu mereview tindakan yang telah dilakukan
|
Pembimbing
mampu melakukan review tindakan yang telah dilakukan
|
15
mnt
|
Post
Conference
|
Mahasiswa
memahami penjelasan tentang prosedur injeksi intracutan
|
F.
Evaluasi
1.
Prosedur : Coaching,
bedsite teaching, postconference
2.
Jenis test : skill, attitude, cognitive
3.
Bentuk : observasi
4.
Alat test : SPO, checklist
G.
Referensi
1.
Potter dan Perry. 2006.
Buku Ajar Fundamental Keperawatan :
Konsep, Proses dan Praktik. Vol 2. Jakarta: EGC
2. Rocca,
et.al. 1998. Seri Pedoman Praktis: Terapi
Intravena. Edisi 2. Jakarta: EGC
3. Mubarok,Kusyati, Eni. dkk.
2006. Keterampilan dan Prosedur laboratorium. Jakarta. EGC. Hal:267
4. Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007.Buku Ajar: Kebutuhan Dasar
Manusia. Jakarta : EG. Hal:92-94
5.
Lampiran
1.
Materi tentang injeksi intracutan.
2.
Kontrak belajar
mahasiswa bimbingan.
3.
Lembar check list
tentang intracutan.
Lampiran
Materi
(Injeksi Intracutan
)
A.
Pengertian
Pemberian cairan melalui infuse adalah pemberian cairan yang diberikan pada
pasien yang mengalami pengeluran cairan atau nutrisi yang berat. Tindakan ini
membutuhkan kesteril-an mengingat langsung berhubungan dengan pembuluh darah.
Pemberian cairan melalui infus dengan memasukkan kedalam vena (pembuluh darah
pasien) diantaranya vena lengan (vena sefalika basal ikadan median akubiti),
pada tungkai (vena safena) atau vena yang ada dikepala, seperti vena temporalis
frontalis (khusus untuk anak-anak).
1. Definisi Pemasangan Infus
Pemasangan
infus merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk memungsi vena secara
transcutan dengan menggunakan stilet tajam yang kaku dilakukan dengan teknik
steril seperti angeocateter atau dengan jarum yang disambungkan dengan spuit
(Eni K, 2006). Pemasangan infus adalah salah satu cara atau bagian dari
pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin ke dalam tubuh pasien (Darmawan,
2008).
Sedangkan
ifus adalah memasukkan cairan dalam jumlah tertentu melalui vena penderita
secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu (Azwar, 2008). Sementara itu
menurut Lukman (2007), pemasangan infus intravena adalah memasukkan jarum atau
kanula ke dalam vena (pembuluh balik) untuk dilewati cairan infus/pengobatan,
dengan tujuan agar sejumlah cairan atau obat dapat masuk ke dalam tubuh melalui
vena dalam jangka waktu tertentu. Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan
cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara
pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan
dan elektrolit serta asam basa.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa pemasangan infus adalah sebuah teknik memasukkan jarum
atau kanula kedalam vena untuk memasukkan cairan infus kedalam tubuh.
2. Tujuan Pemasangan Infus
Tujuan
utama terapi intravena adalah mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang
mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat
dipertahankan melalui oral, mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan
elektrolit, memperbaiki keseimbangan asam basa, memberikan tranfusi darah,
menyediakan medium untuk pemberian obat intravena, dan membantu pemberian
nutrisi parental (Hidayat, 2008).
3. Keuntungan dan Kerugian
a.Keuntungan;
Keuntungan pemasangan infus intravena antara lain: Efek terapeutik segera dapat
tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat, absorbs
total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan,
kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik data dipertahankan
maupun dimodifikasi, rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan
intramuscular atau subkutan dapat dihindari sesuai untuk obat yang tidak dapat
diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau
ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis.
b.Kerugian;
Kerugian pemasangan infus intravena adalah: tidak bisa dilakukan “drug recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga
resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi, control pemberian yang tidak baik
bisa menyebabkan “speed shock” dan
komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu: konmtaminasi mikroba melalui titik akses
ke sirkulasi dalam periode tertentu, iritasi vascular, misalnya flebitis kimia,
dan inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.
4. Lokasi Pemasangan Infus
Menurut
Perry dan Potter (2005), tempat atau lokasi vena perifer yang sering digunakan
pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau perifer kutan terletak di
dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi
intaravena. Daerah tempat infus yang
memungkinkan adalah permukaan dorsal tangan (Vena supervisial dorsalis, vena basalika, vena sefalika), lengan
bagian dalam (vena basalika, vena
sefalika, vena kubital median, vena median lengan bawah, dan vena radialis), permukaan dorsal (Vena safena magna, ramus dorsalis).
Menurut
Dougherty, dkk, (2010), Pemulihan lokasi pemasangan terapi intravena
mempertimbangkan beberapa factor, yaitu:
a. Umur pasien: misalnya pada anak
kecil, pemilihan sisi adalah sangat penting dan mempengaruhi beberapa lama
intravena terakhir
b. Prosedur yang diantisipasi:
misalnya jika pasien harus menerima jenis terapi tertentu atau mengalami
beberapa prosedur seperti pemedahan, pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh
apapun
c. Aktivitas pasien: misalnya
gelisah, bergerak, tak bergerak, perubahan tingkat kesadaran
d. Jenis intravena: jenis larutan
dan obat-obatan yang akan diberikan sering memaksa tempat-tempat yang optimum
(misalnya hiperalimenasi adalah sangat mengiritasi bena-vena perifer
e. Durasi terapi intravena: terapi
jangka panjang memerlukan pengukuran untuk memelihara vena; pilih bena yang
akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-hati, rotasi sisi pungsi dari distal
ke proksimal (misalnya mulai di tangan dan pindah ke lengan)
f. Keetersediaan vena perifer bila
sangan sedikit vena yang ada, pemilihan sisi dan rotasi yang berhati-hati
menjadi sangat penting; jika sedikit vena pengganti
g. Terapi intravena sebelumnya:
flebitis sebelumnya membuat vena menjadi tidak baik untuk digunakan, kemotrapi
sering membuat vena menjadi buruk (misalnya mudah pecah atau sklerosis)
h. Pembedahan sebelumnya: jangan gunakan
ekstremitas yang terkena pada pasien dengan kelenjar limfe yang telah diangkat
(misalnya pasien mastektomi) tanpa izin dari dokter
i.
Sakit sebelumnya: jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien dengan
stroke
j.
Kesukaan pasien: jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk
sebelah kiri atau kanan dan juga sisi.
5. Cairan Infus
Berdasarkan
osmolalitasnya, menurut Perry dan Potter (2005), cairan intravena (infus)
dibagi menjadi 3, yaitu:
a)
Cairan ersifat isotonis: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairan mendekati
serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam
pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan
cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Meiliki resiko terjadinya
overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongresif
dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal
saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
b)
Cairan bersifat hipotonis: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum
(kosentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam
serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam
pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari
osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang
dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien
cuci darah (dialysis) dalam terapi deuretik, juga pada pasien hiperglikemia
(kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetic. Komplikasi yang
membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke
sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakarnial
(dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
c)
Cairan bersifat hipertonis: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum,
sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh
darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urine, dan
mengurangi edema bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik.
Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45%
hipertonik, Dextrose 5% + Ranger- Lactate.
6. SOP Pemasangan Infus
Pelaksanaan
dalam pemasangan infus harus dilaksanakan sebaik-baiknya guna menghindari
terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Secara teori menurut Smith (2010)
Standar Operatin Prosedure (SOP) dalam pemasangan infus, yaitu:
1.
Persiapkan alat dan bahan seperti tiga buah potongan plester sepanjang 2,5
cm. belah dua salah satu plester sampai ke bagian tengah, jarum atau kateter,
kapas alcohol atau antiseptik.
2.
Sambungkan cairan infus dengan infus set terlebih dahulu dan periksa tidak
ada udara pada infus set.
3.
Pasang torniket pada daerah proksimal vena yang akan dikaterisasi 60-80
mmHg.
4.
Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.
5.
Pilih vena yang akan dilakukan pemasangan, untuk anak-anak lakukan teknik transiluminasi untuk mendapatkan vena.
6.
Dengan kapas alcohol atau antiseptik yang tepat, bersihkan tempat inersi
dan biarkan hingga mongering.
7.
Dorong pasien untuk tarik nafas dalam agar pasien relaksasi dan nyaman.
8.
Masukkan kateter ke vena sejajar dengan bagian terlurus vena, tusuk kulit
dengan sudut 30-45 derajat, setelah keluar darah pada ujung kateter, tarik
sedikit jarum pada kateter, dorong kateter sampai ujung, dan ditekan ujung
kateter dengan 1 jari.
9.
Lepaskan torniket.
10.
Adapun Standar Operating Prosedur (SOP) memasang selang infus di RSUD Tais
adalah:
11.
Cuci tangan
12.
Dekatkan alat
13.
Jelaskan kepada klien tentang prosedur dan sensasi yang akan dirasakan
selama pemasangan infus.
14.
Atur posisi pasien/berbaring.
15.
Siapkan cairan dengan menyambung botol cairan dengan selang infus dan
gantungkan pada standar infus
16.
Menentukan area vena yang akan ditusuk
17.
Pasang alas
18.
Pasang tourniket pembendung + 15 Cm di atas vena yang akan ditusuk
19.
Pakai sarung tangan
20.
Disinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm
21.
Tusukan IV catheter ke vena dengan jarum menghadap ke jantung
22.
Pastikan jarum IV masuk ke vena
23.
Sambungkan jarum IV dengan selang infus
24.
Lakukan fiksasi ujung jarum IV di tempat inersi
25.
Tutup area inersi dengan kasa kering kemudian plester
26.
Atur tetesan infus sesuai program medis
27.
Lepaskan sarung tangan
28.
Pasang label pelaksana tindakan yang berisi: nama pelaksanan, tanggal dan
jam pelaksana
29.
Bereskan alat
30.
Cuci tangan
31.
Observasi dan evaluasi respon pasien, catat pada dokumentasi keperawatan.
7. Komplikasi Pemasangan Infus
Pemasangan infus intravena
diberikan secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama tentunya akan
meningkatkan terjadinya komplikasi. Komplikasi dari pemasangan infus yaitu
flebitis, hematoma, infiltrasi, trombiflebitis, emboli udara (Hinlay, 2006).
a. Flebitis
Inflasi vena yang disebabkan oleh
iritasi kimia maupun mekanik. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan adanya daerah
yang memerah dan hangat di sekitar daerah inersi/penusukan atau sepanjang vena,
nyeri atau rasa lunak pada area inersi atau sepanjang vena dan pembengkakan.
b. Infiltrasi
Infiltaris terjadi ketika cairan
IV memasuki ruang subkutan di sekililing tempat fungsi vena. Infiltrasi
ditunjukkan dengan adanya pembengkakan (akibat peningkatan cairan di jaringan),
palor (disebabkan oleh sirkulasi yang menurun) di sekitar area inersi,
ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara nyata. Infiltrasi mudah
dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada tempat yang sama di
ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih dipercaya untuk memastikan infiltrasi adalah
dengan memasang torniket di atas atau di daerah proksimal dari tempat
pemasangan infus dan mengencangkan torniket tersebut secukupnya untuk
menghentikan aliran vena. Jika infus tetap menetes meskipun ada obstruksi vena,
berarti terjadi infilrasi.
c. Iritasi vena
Kondisi ini ditandai dengan nyeri
selama diinfus, kemerahan pada kulit di atas area insersi. Iritasi vena
bisa terjadi karena cairan dengan pH
tinggi, pH rendah atau osmolaritas yang tinggi (misalnya: Phenytoin, voncomycin, eritromycin dan nafellin).
d. Hematoma
Hematoma terjadi sebagai akibat
kebocoran darah ke jaringan di sekitar area inersi. Hal ini disebabkan oleh
pecahnya vena yang berlawanan selama penusukan vena, jarum keluar vena, dan
tekanan yang tidak sesuai yang diberikan ke tempat penusukan setelah jarum atau
kateter dilepaskan. Tanda dan gejala hematoma yaitu ekimosis, pembengkakan
segera pada tempat penusukan, dan kebocoran darah pada tempat penusukan.
e. Tromboflebitis
Tromboflebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena. Karakteristik Tromboflebitis adalah adanya nyeri yang
terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi
atau sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman
dan pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan
leukositosis.
f. Trombisis
Trombisis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena, dan aliran infus
berhenti. Trombisis disebabkan oleh
injuri sel endotel dinding vena, pelekatan platelet.
g. Occlusion
Occlusion ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika
botol dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada area
pemasangan/insersi. Occlusion disebabkan
oleh gangguan aliran IV, aliran balik darah ketika pasien berjalan, dan selang
diklem terlalu lama.
h. Spasme Vena
Kondisi ini ditandai dengan nyeri
sepanjang vena, kulit pucat di sekitar vena, aliran berhenti meskipun klem
sudah dibuka maksimal. Spasme Vena
bisa disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena oleh
obat atau cairan yang mudah mgiritasi vena dan aliran yang terlalu cepat.
i. Reaksi Vasovagal
Digambarkan dengan klien
tiba-tiba terjadi kollaps pada vena, dingin, berkeringat, pingsan, pusing, mual
dan penurunan tekanan darah. Reaksi vasovagal bisa disebabkan oleh nyeri
kecemasan.
j. Kerusakan Syaraf, tendon dan
ligament
Kondisi ini ditadai oleh nyeri
ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi otot. Efek lambat yang bisa muncul
adalah paralysis, mati rasa dan deformitas. Kondisi ini disebabkan oleh tehnik
pemasangan yang tidak tepat sehingga menimbulkan injuri di sekitar syaraf,
tendon dan ligament.
KONTRAK BELAJAR
Nama : Azkadina
Nim :1504091
Tempat : Ruang Cempaka
Topik : Kebutuhan Dasar
Praktek Klinik
Sub Topik :Injeksi Intracutan
|
Tujuan Umum
|
Tujuan Khusus
|
Sumber
|
Strategi Pencapaian
|
Kriteria Penilaian
|
|
Setelah mengikuti pembelajaran klinik
ini peserta didik mampu melakukan tindakan pemasangan
infus sesuai deng prosedur
|
Setelah mengikuti proses pembelajaran
klinik peserta didik mampu:
a. Peserta
didik mengetahui tujuan tindakan melakukan pemasangan infus
b. Mahasiswa
mampu mereview tindakan yang telah dilakukan
|
2. Rocca,
et.al. 1998. Seri Pedoman Praktis: Terapi Intravena. Edisi 2. Jakarta: EGC
|
a.
Melakukan studi pustaka sebelum terjun
ke lahan praktek
b.
Diskusi dengan dosen pembimbing dan
pembimbing klinik
c.
Bed side teaching
|
a.
Penilaian penampilan dengan checklist
b.
Laporan pendokumentasian
|
Semarang, 07 Januari
2016
DAFTAR CHECKLIST SPO
Nama : Azkadina
NIM :
1504091
Metode : Coaching
Kasus : Melakukan
pemasangan infus
|
No
|
ASPEK YANG
DINILAI
|
SKOR
|
|
|
A
|
SIKAP DAN PERILAKU
|
YA
|
TIDAK
|
|
1
|
Teruji komunikatif
memperkenalkan diri dengan pasien
|
|
|
|
2
|
Teruji menyampaikan
tujuan dan prosedur tindakan
|
|
|
|
3
|
Teruji bersikap sopan
|
|
|
|
4
|
Teruji bersikap
cekatan
|
|
|
|
|
Score: 6
|
|
|
|
B
|
PERALATAN
|
|
|
|
1
|
Sarung tangan
(handscoon) 1 pasang
|
|
|
|
2
|
Spuit 1 ml
|
|
|
|
3
|
Kom tertutup
|
|
|
|
4
|
Abocath (sesuai
ukuran)
|
|
|
|
5
|
Kapas alkohol
|
|
|
|
6
|
Torniquet
|
|
|
|
7
|
Perlak dan
pengalas
|
|
|
|
8
|
Bengkok 1 buah
|
|
|
|
9
|
Pulpen
|
|
|
|
10
|
Aquabidest
|
|
|
|
11
|
Kapas alkohol
|
|
|
|
12
|
Obat yang dibutuhkan
|
|
|
|
|
Score : 12
|
|
|
|
B
|
PROSEDUR KERJA
|
|
|
|
1
|
Pasang perlak pengalas
|
|
|
|
2
|
Tutup saluran pada selang infus
|
|
|
|
3
|
Tusuk saluran infus
|
|
|
|
4
|
Gantungkan botol
cairan pada standar infus
|
|
|
|
5
|
Isi tabung reservoir infus
|
|
|
|
6
|
Alirkan cairan hingga tidak ada udara dalam selang
|
|
|
|
7
|
Atur posisi pasien
|
|
|
|
8
|
Pasang perlak dengan pengalasnya
|
|
|
|
9
|
Pilih vena yang akan di insersi
|
|
|
|
10
|
Pasang torniquet 5 cm dari arah yang akan di insersi
|
|
|
|
11
|
Pakai Handscone
|
|
|
|
12
|
Bersihkan kulit dengan kaps alkohol
|
|
|
|
13
|
Pegang abocate masuk ke intra vena
|
|
|
|
14
|
Sambungkan dengan selang infus
|
|
|
|
15
|
Lakukan piksasi
|
|
|
|
16
|
Desinfeksi area tusukan dan tutup dengan kasa steril
|
|
|
|
17
|
Atur tetesan cairan infus sesuai program
|
|
|
|
|
Score : 17
|
|
|
|
|
Nilai :
Jumlah item yang dilakukan x 100
Total item
|
||
Keterangan: Ya = dilakukan
dengan benar
Tidak = tidak dilakukan
Isilah dengan tanda (v) bila dilakukan
Isilah dengan tanda (x) bila tidak
dilakukan
Semarang, 07 Januari 2016
Pembimbing
----------------------------------
CHECKLIST POST
CONFERENCE
Nama : Azkadina
NIM :
1504091
Metode : Coaching
Kasus : Melakukan
injeksi intracutan
|
No
|
Kegiatan
|
YA
|
TIDAK
|
|
1
|
Pembimbing klinik menanyakan
perasaan peserta didik setelah bed site teaching.
|
v
|
|
|
2
|
Pembimbing klinik
menanyakan peserta didik tentang attitude saat contact pada pasien.
|
|
|
|
3
|
Pembimbing klinik
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya
|
v
|
|
|
Nilai: Jumlah item yang dilakukan x 100
Total item
|
|||
Keterangan: Isilah dengan tanda ( v ) bila dilakukan
Isilah dengan tanda (x) bila tidak
dilakukan
Ya
= dilakukan dengan benar
Tidak =
tidak dilakukan
FORMAT PENILAIAN PRAKTEK
BIMBINGAN KLINIK
METODE COACHING PEMASANGAN INFUS
|
NO
|
Aspek
Penilaian
|
Nilai
|
Bobot
|
N x b
|
|
1
|
Preconference
|
|
|
|
|
|
a. Ketepatan waktu sesuai perencanaan
bimbingan
|
|
10
|
|
|
|
b. Kesesuaian perencanaan kegiatan CI pada
saat preconference
|
|
30
|
|
|
2
|
Bed Side Teaching
|
|
|
|
|
|
a. Informedconsent pada pasien
|
|
10
|
|
|
|
b. Penilaian kesesuaian tindakan berdasarkan
SPO
|
|
20
|
|
|
3.
|
Postconference
|
|
|
|
|
|
a. Ada refleksi
|
|
5
|
|
|
|
b. Penilaian CI
|
|
25
|
|
Keterangan:
Kolom nilai diisi dengan angka 0
atau 1
0 = jika tidak sesuai
1 = jika sesuai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar