Kamis, 31 Maret 2016

A B C D E DALAM GAWAT DARURAT

A B C D E DALAM KEGAWAT DARURATAN








Tubuh kita dapat bertahan dalam beberapa minggu tanpa makanan dan beberapa hari tanpa air. Tapi tubuh kita tidak dapat bertahan jika tanpa Oksigen. Dalam penanganan gawat darurat, kecepatan dan kualitas pertolongan sangat di butuhkan untuk mencapai keberhasilan dan dalam penyelamatan. Untuk itu di dunia international sudah menetapkan rumusan dalam menangani Penderita Gawat Darurat, yaitu : ABCDE (Air Way, Breathing and Ventilation, Circulation, Disability, Exposure). Airway ditempatkan pada urutan pertama karena masalah airway akan mematikan paling cepat. Komponen yang penting dari sistem pernapasan adalah hidung dan mulut, faring, epiglotis, trakea, laring, bronkus dan paru. Kalian juga dapat melihat Materi tentang Konsep Pelayanan Gawat Darurat yang kalian bisa lihat di sini

I.            PENDAHULUAN
Keberhasilan dalam penanggulangan penderita Gawat Darurat (PPGD) sangat bergantung dari kecepatan dan kualitas pertolongan yang didapat penderita. Disini harus selalu diingat bahwa :
1.      Kematian oleh karena sumbatan jalan nafas akan lebih cepat daripada kematian karena kemampuan bernafas
2.      Kematian oleh karena ketidakmampuan bernafas akan lebih cepatdaripada kematian karena kehilangan darah
3.      Kematian berikutnya akan diikuti oleh karena penyebab intra kranial
Karena itu dalam PPGD apapun penyebabnya urutan pertolongan adalah sebagai berikut :
A : Air way, with cervical spine control
B : Breathing and Ventilation
C : Circulation with haemorrhage control
D : Disability on neurologic status
E  : Exposure/Undress with temperature control

II.            AIR WAY MANAGEMENT
Ketidakmampuan untuk memberikan oksigenasi ke jaringan tubuh terutama ke otak dan organ vital yang lain merupakan pembunuh tercepat pada pasien. Oleh karena itu airway yang baik merupakan prioritas pertama pada setiap penderita gawat darurat.
Kematian-kematian dini karena masalah airway :
1.      Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan airway
2.      Ketidakmampuan untuk membuka airway
3.      Kegagalan mengetahui adanya airway yang dipasang secara keliru
4.      Perubahan letak airway yang sebelumnya telah dipasang
5.      Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan ventilasi
6.      Aspirasi isi lambung, darah

Pengenalan Masalah
Gangguan airway dapat timbul secara total & mendadak tetapi sebaliknya bisa secara bertahap dan pelan-pelan. Takhipnea merupakan tanda awal yang samar-samar akan adanya gangguan terhadap airway. Adanya ketakutan & gelisah merupakan tanda hipoksia oleh karena itu harus selalu secara berulang-ulang kita nilai airway ini terutama pada penderita yang tidak sadar. Penderita dengan gangguan kesadaran oleh karena cidera kepala obat-obatan atau alkohol, cedera toraks, aspirasi material muntah atau tersedak mungkin sekali terjadi gangguan airway. Disini diperlukan intubasi endotrakheal yang bertujuan :
1.      Membuka airway
2.      Memberikan tambahan oksigen
3.      Menunjang ventilasi
4.      Mencegah aspirasi

Tanda-tanda Obyektif Sumbatan Airway
1.      Look
Terlihat pasien  gelisah dan perubahan kesadaran. Ini merupakan gejala adanya hipoksia dan hipercarbia. Pasien terlihat cyanosis terutama pada kulit sekitar mulut, ujung jari kuku. Juga terlihat adanya kontraksi dari otot pernafasan tambahan.
2.      Listen
Disini kita dengarkan apakah ada suara seperti orang ngorok, kumur-kumur, bersiul, yang mungkin berhubungan dengan adanya sumbatan partial pada farink/larink.
3.      Feel
Kita bisa rasakan bila ada sumbatan udara terutama pada saat ekspirasi bila kedudukan trackhea di linea media

Management
Pengenalan adanya gangguan jalan nafas & ventilasi harus bisa dilakukan secara cepat & tepat. Bila memang ada harus secepatnya gangguan jalan nafas dan ventilasi ini untuk segera diatasi. Hal penting ini untuk menjamin oksigenasi ke jaringan. Haruslah diingat setiap tindakan untuk menjamin airway yang baik harus selalu dengan penekanan untuk selalu menjaga cervical spine terutama pada penderita dengan trauma dan cedera di atas clavikula. Pada setiap penderita dengan gangguan saluran nafas, harus selalu secara cepat diketahui apakah ada benda asing, cairan isi lambung, darah di saluran nafas bagian atas. Kalau ada harus segera dicoba untuk dikeluarkan bisa dengan jari, suction. Suatu saat bila dilapangan ada penderita dengan sumbatan jalan nafas misal tersedak makanan abdominal trust akan sangat berguna.
1.      Teknik-teknik mempertahankan airway :
Pada penderita dengan kehilangan kesadaran mungkin sekali lidah akan jatuh ke belakang dan menutupi hipofarink dan menimbulkan sumbatan jalan nafas. Ini bisa ditolong dengan jalan :
a.       Chin lift
b.      Jaw thrust
c.       Orofaringeal tube
d.      Nasofaringeal tube
2.      Airway definitif
Disini ada pipa dalam trakhea dengan balon yang dikembangkan, dimana pipa ini dihubungkan dengan alat bantu pernafasan yang diperkaya dengan oksigen. Cara : oratracheal, nasotracheal & surgical (krikotiroidotomi atau trakheotomi). Indikasi pemasangan airway definitif bila ditemukan adanya temuan klinis :
a.       Apnue
b.      Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara yang lain
c.       Untuk melindungi airway bagian bawah dari aspirasi darah atau muntahan
d.      Adanya ancaman segera sumbatan airway oleh karena cidera inhalasi patah tulang wajah hematoma retropharingeal
Cidera kepala tertutup yang memrlukan bantuan nafas (GCS ≤8). Dari ketiga cara ini yang terbanyak dipakai adalah endotrakheal (naso/orotrakheal). Pemilihan naso/orotrakheal intubation tergantung pengalaman dokter. Kedua teknik ini aman dan efektif bila dilakukan dengan tepat. Haruslah diingat pada pemasangan endotrakheal tube ini harus selalu dijaga aligment dari columna vertebralis dengan cervikal.
3.      Airway definitif surgical
Ini dikerjakan bila ada kesukaran atau kegagalan didalam memasang endotrakheal intubasi. Pada keadaan yang membutuhkan kecepatan lebih dipilih krikotireodektomi dari pada tracheostomi.
a.       Needle cricothyroidoktomi
Cara dengan menusukkan jarum lewat membran krikotiroid, ini hanya bisa memberikan oksigen dalam waktu yang pendek (30-45 menit). Disini dipakai jarum no 12-14 (anak 16-18 tahun)
b.      Surgical cricothyroidoktomi
Penderita tidur posisi supinasi sesudah dilakukan anestesi lokal buat irisan kulit tranversal sampai membran cricothyroid lubang ini bisa dilebarkan dengan gagang pisau dengan cara memutar 90 derajad. Disini bisa dipakai tracheostomi tube atau endotracheal tube. Hati-hati dengan cartilago cricoid terutama pada anak-anak (teknik ini tidak dianjurkan pada anak dibawah 12 tahun), hal ini dikarenakan cartilago cricoid merupakan penyangga trachea bagian atas. Komlikasi :
1)      Aspirasi
2)      Salah masuk ke dalam jaringan
3)      Stenosis/oedema subglotis
4)      Stenosis laringeal
5)      Perdarahan/hematom
6)      Laserasi esophagus
7)      Laserasi trachea
8)      Emphisema mediastinal
9)      Paralisis pita suara

III.            BREATHING AND VENTILATION
Jalan nafas yang baik dan lancar belum tentu menjamin ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik sangat bergantung dari fungsi paru, dinding dada dan diafragma. Penyebab gangguan breathing :
1.      Pleural effusion
2.      Pneumothoraks (open dan tension)
3.      Hemothoraks
4.      Traumatic wet lung syndrome
Pertolongan untuk memperbaiki breathing :
1.   Tension pneumothorax :
·     Tusuk dengan jarum yang besar pada sela antar iga II
·     Pemasangan chest tube pada sela antar iga IV
2.  Hemothorax dengan pemasangan chest tube
3.  Open pneumothorax segera ditutup dengan kasa vasein
4.  Fail chest diberi analgetika

IV.            CIRCULATION WITH HAEMORRAHAGE CONTROL
Penyebab terbesar pasien yang mengalami shook dan berakhir dengan kematian adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak. Oleh karenanya pasien dengan trauma dan hipotensi, harus segera ditangani sebagai pasien hipovolemi sampai bisa dibuktikan bahwa hipotensinya disebabkan oleh sebab yang lain. Seperti diketahui, volume darah manusia dewasa adalah 7% dari berat badan, anak 8-9% dari BB. Terapi resusitasi cairan yang agresif harus segera dimulai begitu ada tanda dan gejala klinis adanya kehilangan darah muncul. Sangatlah berbahaya bila menunggu sampai tekanan darah menurun. Untuk menilai apakah resusitasi cairan yang diberikan sudah cukup atau belum :
·     Tanda vital
·     Produksi urine
·     CVP
Penyebab hipovolemia adalah :
·     Cidera rongga perut
·     Cidera rongga dada
·     Fraktur pelvis
·     Fraktur femur
·     Luka tembus pembuluh darah besar
·     Perdarahan diluar tubuh dari berbagai tempat

V.            DISABILITY (NEUROLOGIC EVALUATION)
Evaluasi secara cepat dilakukan dan dikerjakan pada tahap akhir dan primary survey dengan menilai kesadaran dan pupil penderita.
A : Alert
V : Respon to vokal stimulation
P : respon only to painful stimulation
U : Unresponsive
Glasgow coma scale merupakan penilaian yang lebih rinci, bila ini tidak dikerjakan di primary survey bisa dikerjakan di secondary survey.
                                                     

VI.            EXPOSURE
Disini semua pakaian pasien dibuka. Hal ini akan sangat membantu pemeriksaan lebih lanjut. Harus diingat disini pasien dijaga agar tidak jatuh ke hipotermia dengan jalan diberikan selimut.

VII.            SECONDARY SURVEY
Dikerjakan bila primary survey dan resusitasi selesai dilakukan. Disini dilakukan evaluasi yang lebih teliti mulai dari kepala sampai ujung kaki penderita, juga GCS bisa dikerjakan lebih teliti bila pada primary survey belum sempat dikerjakan. Pemeriksaan laboratorium, evaluasi, radiologi dan peritoneal lavage bisa dikerjakan.

Tubuh kita dapat bertahan dalam beberapa minggu tanpa makanan dan beberapa hari tanpa air. Tapi tubuh kita tidak dapat bertahan jika tanpa Oksigen. Dalam penanganan gawat darurat, kecepatan dan kualitas pertolongan sangat di butuhkan untuk mencapai keberhasilan dan dalam penyelamatan. Untuk itu di dunia international sudah menetapkan rumusan dalam menangani Penderita Gawat Darurat, yaitu : ABCDE (Air Way, Breathing and Ventilation, Circulation, Disability, Exposure). Airway ditempatkan pada urutan pertama karena masalah airway akan mematikan paling cepat. Komponen yang penting dari sistem pernapasan adalah hidung dan mulut, faring, epiglotis, trakea, laring, bronkus dan paru. Kalian juga dapat melihat Materi tentang Konsep Pelayanan Gawat Darurat yang kalian bisa lihat di sini

I.            PENDAHULUAN
Keberhasilan dalam penanggulangan penderita Gawat Darurat (PPGD) sangat bergantung dari kecepatan dan kualitas pertolongan yang didapat penderita. Disini harus selalu diingat bahwa :
1.      Kematian oleh karena sumbatan jalan nafas akan lebih cepat daripada kematian karena kemampuan bernafas
2.      Kematian oleh karena ketidakmampuan bernafas akan lebih cepatdaripada kematian karena kehilangan darah
3.      Kematian berikutnya akan diikuti oleh karena penyebab intra kranial
Karena itu dalam PPGD apapun penyebabnya urutan pertolongan adalah sebagai berikut :
A : Air way, with cervical spine control
B : Breathing and Ventilation
C : Circulation with haemorrhage control
D : Disability on neurologic status
E  : Exposure/Undress with temperature control

II.            AIR WAY MANAGEMENT
Ketidakmampuan untuk memberikan oksigenasi ke jaringan tubuh terutama ke otak dan organ vital yang lain merupakan pembunuh tercepat pada pasien. Oleh karena itu airway yang baik merupakan prioritas pertama pada setiap penderita gawat darurat.
Kematian-kematian dini karena masalah airway :
1.      Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan airway
2.      Ketidakmampuan untuk membuka airway
3.      Kegagalan mengetahui adanya airway yang dipasang secara keliru
4.      Perubahan letak airway yang sebelumnya telah dipasang
5.      Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan ventilasi
6.      Aspirasi isi lambung, darah

Pengenalan Masalah
Gangguan airway dapat timbul secara total & mendadak tetapi sebaliknya bisa secara bertahap dan pelan-pelan. Takhipnea merupakan tanda awal yang samar-samar akan adanya gangguan terhadap airway. Adanya ketakutan & gelisah merupakan tanda hipoksia oleh karena itu harus selalu secara berulang-ulang kita nilai airway ini terutama pada penderita yang tidak sadar. Penderita dengan gangguan kesadaran oleh karena cidera kepala obat-obatan atau alkohol, cedera toraks, aspirasi material muntah atau tersedak mungkin sekali terjadi gangguan airway. Disini diperlukan intubasi endotrakheal yang bertujuan :
1.      Membuka airway
2.      Memberikan tambahan oksigen
3.      Menunjang ventilasi
4.      Mencegah aspirasi

Tanda-tanda Obyektif Sumbatan Airway
1.      Look
Terlihat pasien  gelisah dan perubahan kesadaran. Ini merupakan gejala adanya hipoksia dan hipercarbia. Pasien terlihat cyanosis terutama pada kulit sekitar mulut, ujung jari kuku. Juga terlihat adanya kontraksi dari otot pernafasan tambahan.
2.      Listen
Disini kita dengarkan apakah ada suara seperti orang ngorok, kumur-kumur, bersiul, yang mungkin berhubungan dengan adanya sumbatan partial pada farink/larink.
3.      Feel
Kita bisa rasakan bila ada sumbatan udara terutama pada saat ekspirasi bila kedudukan trackhea di linea media

Management
Pengenalan adanya gangguan jalan nafas & ventilasi harus bisa dilakukan secara cepat & tepat. Bila memang ada harus secepatnya gangguan jalan nafas dan ventilasi ini untuk segera diatasi. Hal penting ini untuk menjamin oksigenasi ke jaringan. Haruslah diingat setiap tindakan untuk menjamin airway yang baik harus selalu dengan penekanan untuk selalu menjaga cervical spine terutama pada penderita dengan trauma dan cedera di atas clavikula. Pada setiap penderita dengan gangguan saluran nafas, harus selalu secara cepat diketahui apakah ada benda asing, cairan isi lambung, darah di saluran nafas bagian atas. Kalau ada harus segera dicoba untuk dikeluarkan bisa dengan jari, suction. Suatu saat bila dilapangan ada penderita dengan sumbatan jalan nafas misal tersedak makanan abdominal trust akan sangat berguna.
1.      Teknik-teknik mempertahankan airway :
Pada penderita dengan kehilangan kesadaran mungkin sekali lidah akan jatuh ke belakang dan menutupi hipofarink dan menimbulkan sumbatan jalan nafas. Ini bisa ditolong dengan jalan :
a.       Chin lift
b.      Jaw thrust
c.       Orofaringeal tube
d.      Nasofaringeal tube
2.      Airway definitif
Disini ada pipa dalam trakhea dengan balon yang dikembangkan, dimana pipa ini dihubungkan dengan alat bantu pernafasan yang diperkaya dengan oksigen. Cara : oratracheal, nasotracheal & surgical (krikotiroidotomi atau trakheotomi). Indikasi pemasangan airway definitif bila ditemukan adanya temuan klinis :
a.       Apnue
b.      Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara yang lain
c.       Untuk melindungi airway bagian bawah dari aspirasi darah atau muntahan
d.      Adanya ancaman segera sumbatan airway oleh karena cidera inhalasi patah tulang wajah hematoma retropharingeal
Cidera kepala tertutup yang memrlukan bantuan nafas (GCS ≤8). Dari ketiga cara ini yang terbanyak dipakai adalah endotrakheal (naso/orotrakheal). Pemilihan naso/orotrakheal intubation tergantung pengalaman dokter. Kedua teknik ini aman dan efektif bila dilakukan dengan tepat. Haruslah diingat pada pemasangan endotrakheal tube ini harus selalu dijaga aligment dari columna vertebralis dengan cervikal.
3.      Airway definitif surgical
Ini dikerjakan bila ada kesukaran atau kegagalan didalam memasang endotrakheal intubasi. Pada keadaan yang membutuhkan kecepatan lebih dipilih krikotireodektomi dari pada tracheostomi.
a.       Needle cricothyroidoktomi
Cara dengan menusukkan jarum lewat membran krikotiroid, ini hanya bisa memberikan oksigen dalam waktu yang pendek (30-45 menit). Disini dipakai jarum no 12-14 (anak 16-18 tahun)
b.      Surgical cricothyroidoktomi
Penderita tidur posisi supinasi sesudah dilakukan anestesi lokal buat irisan kulit tranversal sampai membran cricothyroid lubang ini bisa dilebarkan dengan gagang pisau dengan cara memutar 90 derajad. Disini bisa dipakai tracheostomi tube atau endotracheal tube. Hati-hati dengan cartilago cricoid terutama pada anak-anak (teknik ini tidak dianjurkan pada anak dibawah 12 tahun), hal ini dikarenakan cartilago cricoid merupakan penyangga trachea bagian atas. Komlikasi :
1)      Aspirasi
2)      Salah masuk ke dalam jaringan
3)      Stenosis/oedema subglotis
4)      Stenosis laringeal
5)      Perdarahan/hematom
6)      Laserasi esophagus
7)      Laserasi trachea
8)      Emphisema mediastinal
9)      Paralisis pita suara

III.            BREATHING AND VENTILATION
Jalan nafas yang baik dan lancar belum tentu menjamin ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik sangat bergantung dari fungsi paru, dinding dada dan diafragma. Penyebab gangguan breathing :
1.      Pleural effusion
2.      Pneumothoraks (open dan tension)
3.      Hemothoraks
4.      Traumatic wet lung syndrome
Pertolongan untuk memperbaiki breathing :
1.   Tension pneumothorax :
·     Tusuk dengan jarum yang besar pada sela antar iga II
·     Pemasangan chest tube pada sela antar iga IV
2.  Hemothorax dengan pemasangan chest tube
3.  Open pneumothorax segera ditutup dengan kasa vasein
4.  Fail chest diberi analgetika

IV.            CIRCULATION WITH HAEMORRAHAGE CONTROL

Penyebab terbesar pasien yang mengalami shook dan berakhir dengan kematian adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak. Oleh karenanya pasien dengan trauma dan hipotensi, harus segera ditangani sebagai pasien hipovolemi sampai bisa dibuktikan bahwa hipotensinya disebabkan oleh sebab yang lain. Seperti diketahui, volume darah manusia dewasa adalah 7% dari berat badan, anak 8-9% dari BB. Terapi resusitasi cairan yang agresif harus segera dimulai begitu ada tanda dan gejala klinis adanya kehilangan darah muncul. Sangatlah berbahaya bila menunggu sampai tekanan darah menurun. Untuk menilai apakah resusitasi cairan yang diberikan sudah cukup atau belum :
·     Tanda vital
·     Produksi urine
·     CVP
Penyebab hipovolemia adalah :
·     Cidera rongga perut
·     Cidera rongga dada
·     Fraktur pelvis
·     Fraktur femur
·     Luka tembus pembuluh darah besar
·     Perdarahan diluar tubuh dari berbagai tempat

V.            DISABILITY (NEUROLOGIC EVALUATION)
Evaluasi secara cepat dilakukan dan dikerjakan pada tahap akhir dan primary survey dengan menilai kesadaran dan pupil penderita.
A : Alert
V : Respon to vokal stimulation
P : respon only to painful stimulation
U : Unresponsive
Glasgow coma scale merupakan penilaian yang lebih rinci, bila ini tidak dikerjakan di primary survey bisa dikerjakan di secondary survey.
                                                     

VI.            EXPOSURE
Disini semua pakaian pasien dibuka. Hal ini akan sangat membantu pemeriksaan lebih lanjut. Harus diingat disini pasien dijaga agar tidak jatuh ke hipotermia dengan jalan diberikan selimut.

VII.            SECONDARY SURVEY

Dikerjakan bila primary survey dan resusitasi selesai dilakukan. Disini dilakukan evaluasi yang lebih teliti mulai dari kepala sampai ujung kaki penderita, juga GCS bisa dikerjakan lebih teliti bila pada primary survey belum sempat dikerjakan. Pemeriksaan laboratorium, evaluasi, radiologi dan peritoneal lavage bisa dikerjakan.

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA Tn. K KHUSUSNYA PADA Ny. M
DENGAN MASALAH UTAMA KEHAMILAN RESIKO TINGGI  DI RT 01 RW 04 DS.LAMUK, KEC. KALIWIRO
KAB. WONOSOBO

I.                    PENGKAJIAN
Hari/ tanggal      :Sabtu, 23 Desember 2015
Waktu                :10.30 s.d. 11.30 WIB
Tempat              :Rumah Tn. K

A.    Identitas Umum
1.      Identitas Kepala Keluarga       
Nama Kepala Keluarga : Tn. K
Umur                             :65 Tahun
Agama                           :Islam
Suku                              :Jawa
Pendidikan                    :SMP
Pekerjaan                       :Swasta
Alamat                           :Lamuk RT 01/RW 04
No Telepon                    :085329076311

2.      Komposisi Keluarga
No
Nama
Hubungan dan kedudukan keluarga
Jenis Kelamin
Usia
Pendidikan
Imunisasai
KB
1.
Tn.K
Suami
L
65th
SMP


2.
Ny. S
Istri
P
59th
D 3


3.
Tn. H
Anak
L
28th
SMK


4.
Ny.M
Menantu
P
24th
SMA


5.
Nn.H
Anak
P
23th
D 3
      √

6.
An.C
Cucu
P
1,5th
     -
      √




3.      Genogram :

 


                                                                                     



        












Keterangan :
                                 = Laki-laki



= Perempuan
 


                                 = Perempuan yang bermasalah
 


                                 =Tinggal serumah
                                               

4.      Tipe Keluarga
a.       Jenis tipe keluarga
Keluarga ini tergolong dalam extended family dimana keluarga inti ditambah nenek dan kakek.
b.      Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut
Keluarga ini tinggal dalam satu rumah sehingga akan dapat mempercepat penularan penyakit, jika salah satu anggota keluarga menderita penyakit yang dapat menular.




5.      Suku Bangsa (Etnis)
c.       Latar belakang etnis keluarga atau anggota keluarga
Keluarga ini berbudaya suku Jawa yang mempunyai anggapan bahwa makan tidak makan asal kumpul.
d.      Tempat tinggal keluarga
Sebagian besar masyarakat adalah etnis Jawa, masyarakat di area tempat tinggal keluarga Tn. K bersifat homogen.
e.       Kegiatan- kegiatan keagamaan, sosial, budaya, reaksi, pendidikan
Ada beberapa kegiatan lingkungan yang masih berhubungan erat dengan nilai etnis diantaranya selamatan, mitoni, mapati, selapanan.
f.       Kebiasaan diet dan berbusana
Ny. M menggunakan pola berbusana modern dan keluarga yang tinggal satu rumah sudah berbusana modern, diet keluarga menganut pola tradisional.
g.      Struktur kekuasaan keluarga tradisional atau modern
Pengambilan keputusan adalah Tn.K.
h.      Bahasa yang digunakan dirumah
Bahasa yang digunakan dirumah adalah bahasa Jawa, tidak ada hambatan komunikasi dalam keluarga khususnya penggunaan bahasa.
i.        Penggunaan jasa-jasa perawatan kesehatan keluarga dan praktisi
Menurut keterangan Tn.K jika ada anggota keluarga yang sakit dibawa berobat ke tenaga kesehatan. Menurut anggota keluarga, tidak ada masalah dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan.

6.      Agama dan Kepercayaan yang Mempengaruhi Kesehatan
j.        Apakah anggota keluarga berbeda dalam praktik keyakinan beragama mereka?
Tidak, seluruh anggota keluarga menganut agama Islam dan memiliki pandangan yang sama dalam praktik keyakinan beragama.
k.      Seberapa aktif keluarga tersebut terlibat dalam kegiatan  agama atau organisasi keagamaan
Anggota keluarga aktif dalam kegiatan keagamaan dilingkungan seperti tahlilan satu kali seminggu.
l.        Agama yang dianut oleh kerluarga
Semua anggota keluarga menganut agama Islam.
m.    Kepercayaan- kepercayaan dan nilai- nilai keagamaan yang dianut dalam kehidupan keluarga terutama dalam hal kesehatan
Menurut anggota keluarga bahwa penyakit adalah takdir yang digariskan oleh Allah dan akan selalu mengupayakan kesembuhan. Tidak ada nilai- nilai keyakinan yang bertentangan dengan kesehatan.

7.      Status Sosial Ekonomi Keluarga
Menurut pandangan keluarga pandangan keluarganya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari- hari. Selain suaminya yang bekerja Ny. M juga bekerja sehingga total pendapatan + Rp. 7.500.000/ bulan. Kebutuhan yang dikeluarkan meliputi kebutuhan sehari- hari, biaya kuliah 1 anak, biaya susu untuk anak, listrik, air. Keluarga mempunyai televisi dan lemari es.

8.      Aktivitas Rekreasi Keluarga
Biasanya keluarga melihat televisi bersama, kadang- kadang pergi bersama ke tempat rekreasi luar kota.

B.     Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1.      Tahap perkembangan keluarga saat ini
Anak Ny. M berusia 1,5 tahun saat ini pada tahap balita prasekolah
2.      Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tahap yang belum adalah tahap dengan anak sekolah dan sebentar lagi mengikuti pendidikan anak dini, sehingga keluarga sudah memikirkan kearah sana.



C.    Riwayat Kesehatan Keluarga
1.      Riwayat Keluarga sebelumnya
-        Riwayat keluarga Tn.K sehat, tidak ada yang pernah menderita penyakit menurun dan menular seperti Diabetes, Hipertensi, HIV/AIDS dan Hepatitis.
-        Riwayat keluarga Ny. M Ibu dan Ayah serta saudara – saudaranya sehat, tidak ada yang menderita asma.

2.      Riwayat Kesehatan masing – masing Anggota Keluarga :




Nama
Umur
BB
Keadaan Kesehatan
Imunisasi (BCG,Polio,DPT,HB,Campak)
Masalah Kesehatan
Tindakan yang telah dilakukan
1.        
Tn. K
65 th
68 kg
Baik



2.        
Ny. S
49 th
55 kg
Baik



3.        
Tn. H
28 th
60 kg
Baik



4.        
Ny. M
24 th
58 kg
Baik

Resti
Konseling kesehatan
5.        
Nn. H
23 th
50 kg
Baik
Lengkap


6.        
An.C
1,5 th
12 kg
Baik
Lengkap



3.      Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan
Jika sakit keluarga Tn. K ke Bidan atau Puskesmas

D.    Pengkajian Lingkungan
1.      Karakteristik rumah
a.       Status rumah yang sedang ditinggali adalah milik kepala keluarga
b.      Denah Rumah
1
2
4
5
7
8
6
9
3
 










Keterangan :
1)      Teras
6)      Kamar tidur
2)      Ruang tamu
7)      Kamar mandi
3)      Ruang keluarga
8)      Dapur
4)      Ruang makan
9)      Kamar tidur
5)      Kamar tidur

·         Rumah terdiri dari ruang tamu, 3 kamar tidur, dapur, kamar mandi, dibagian depan rumah terdapat teras, penataan perabotan dalam rumah kurang rapi, ventilasi dan penerangan cukup, lantai dari keramik, tembok permanen, kuat dan dapat melindungi suhu dingin maupun gangguan keamanaan yang lain.
·         Dapur bersih tetapi penataan kurang tepat, sumber air bersih dari PDAM, alat masak lengkap dan bersih karena setelah di pakai dicuci, tidak terdapat alat pengaman kebakaran. Penempatan alat – alat tidak terjangkau anak kecil sehingga tidak membahayakan.
·         Peralatan mandi lengkap dan setiap anggota keluarga memiliki peralatan mandi tersendiri, bak mandi dikuras 1 kali seminggu
·         Kamar tidur dihuni 2 orang, privasi orang yang ada di kamar terjamin karena kamar memiliki pintu dan kunci
·         Tidak mempunyai hewan peliharaan
·         Keluarga mengatakan bahwa merasa aman tinggal didalam rumah dan dapat melakukan kegiatan dengan leluasa
·         Anggota keluarga mengatakan bahwa dapat melakukan aktivitas dengan leluasa dan tidak merasa terganggu orang dari luar
·         Rumah relatif aman dari resiko kecelakaan karena berada di desa, pintu kuat dan jalan didepan rumah jarang dilalui kendaraan besar sehingga resiko kecelakaan kecil
·         Sampah rumah tangga dibuang dan di bakar di belakang rumah setiap harinya.
·         Anggota keluarga merasa kurang puas dengan penataan rumah karena menginginkan rumah yang lebih bagus lagi.


1.      karakteristik tetangga dan komunitas RW
Tetangga sebelah kiri dan kanan rumah selalu memperhatikan apabila dalam keluarga ada yang sakit.
2.      Mobilitas Geografis keluarga
Keluarga adalah penduduk pendatang tetapi saat ini sudah menetap di Ds.Lamuk, Kaliwiro, Wonosobo .
3.      Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Ibu mengikuti PKK setiap hari minggu sore
4.      System pendukung keluarga
Saat ini anggota keluarga dalam keadaan sehat jika sakit dan perlu biaya yang dirasakan berat maka biasanya keluarga meminta bantuan kepada saudara atau tetangga- tetangga dekat rumah.



E.     Struktur keluarga
1.      Pola komunikasi keluarga
Pola komunikasi keluarga dilakukan secara terbuka, bahasa yang digunakan dan dipakai setiap hari adalah jawa, keluarga tidak memiliki kesulitan bahasa dalam penerimaan pesan, frekwensi komunikasi dalam keluarga setiap hari dilakukan dan selama ini tidak ada masalah dalam keluarga mengenai komunikasi.
2.      Struktur kekuatan keluarga
Pengendali keluarga adalah Tn.K sebagai penanggung jawab keluarga. Keputusan diambil oleh Tn.K setelah pengambilan keputusan tidak ada permasalahan dalam anggota keluarga dan secara umum tidak ada yang mendominasi kekuasaan, hanya struktur tertinggi di pegang oleh penanggung jawab keluarga.
3.      Struktur peran
Peran kepala keluarga mencari nafkah, Ibu mertua Ny.M yaitu menjadi PNS dan melaksanakan pekerjaan rumah model peran yang dianut adalah sama-sama berperan dan selama ini tidak terjadi konflik peran dikeluarga.
4.      Nilai atau norma keluarga
Norma keluarga yang berkaitan dengan kesehatan adalah bila ada anggota keluarga yang sakit periksa ketenaga kesehatan. Dalam kehidupan setiap hari keluarga menjalani hidup berdasarkan tuntunan agama islam.


F.     Fungsi keluarga
1.      Fungsi efektif
Sikap dan hubungan antar anggota keluarga baik, dan menurut Tn.K keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
2.      Sosialisasi
Interaksi dalam keluarga baik dan keluarga mendidik anak-anaknya dengan baik dengan cara merawat anak dan memperhatikan kesehatan anak serta dikenakan pakaian rapi.
3.      Fungsi perawatan kesehatan
a.       Kemampuan mengenal masaalah keluarga sudah mengenali sakit anaknya
b.      Kemapuan keluarga mengambil keputusan, apabila ada permasalahan kesehatan keluarga merundingkan secara bersama-sama.
c.       Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, sesuai dengan anjuran petugas kesehatan
d.      Kemampuan keluatga memelihara lingkuangan rumah, keluarga mengetahui pentingnya kebersihan lingkungan .
e.       Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan, bila sakit periksa ketenaga kesehatan.
4.      Fungsi Ekonomi
Jumlah anak satu orang yaitu wanita. Ibu tidak menggunakan KB dan saat ini sedang hamil.
5.      Fungsi Ekonomi
Keluarga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari


G.    Stress dan Koping
1.      Stressor jangka pendek dan panjang
Ibu mengatakan tidak ada masalah yang berat selama ini
2.      Kemapuan keluarga merespon terhadap situasi atau stressor
Ibu mengatakan ketika keluarga ada yang sakit atau masalah kesehatan, langsung secepatnya dibawa ke dokter atau ke bidan.
3.      Strategi koping yang digunakan
Ibu mengatan ketika anggota keluarga ada masalah selalu di bicarakan bersama keluarga untuk di musyawarahkan.
4.      Strategi adaptasi disfungsional
Ny.M mengatakan kalau ada masalah berat sering pusing, dan kadang-kadang menangis, tetapi kalau masalah sudah di bicarakan bersama biasanya Ny.M merasa lebih tenang kembali


H.    Pemeriksaan Fisik
1.      Identitas
Nama                    : Ny.M
Umur                    : 24 tahun
Pendidikan           : SMA
Pekerjaan              :IRT
2.      Keluhan atau riwayat penyakit saat ini
Ny. M mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit menurun seperti Hipertensi, DM, asma dll, dan tidak sedang menderita penyakit menular seperti HIV/AIDS, TBC, hepatitis dll.
3.      Riwayat penyakit sebelumnya
Ny. M mengatan sebelumnya tidak pernah menderita penyakit menurun seperti Hipertensi, DM, asma dll, dan tidak sedang menderita penyakit menular seperti HIV/AIDS, TBC, hepatitis dll.
4.      Tanda-tanda Vital
a.       Keadaan umum          : baik
b.      Kesadaran                  : composmentis
c.       TD                              : 120/80 mmHg
d.      N                                : 82 x/m
e.       S                                 : 36,5°C
f.       RR                              : 22 x/m
g.      BB                              : 58 Kg
h.      TB                              : 159 cm
i.        LILA                          : 26 cm
5.      Status person
a.       Kepala            : Mesochepal, bersih, simetris tidak ada rambut rontok
b.      Muka              : simetris, tidak oedem, tidak pucat
c.       Mata               : simetris, bersih, konjungtiva tidak anemis, sclera putih
d.      Hidung           : simetris, bersih, tidak ada pembesaran polip
e.       Kuping           : simetris, bersih, tidak ada serumen
f.       Mulut              : simetris, bersih, tidak ada sariawan, tidak ada karies gigi
g.      Leher              : simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, dan vena jugularis
h.      Dada               : simetris, tidak ada nyeri tekan
i.        Ketiak             : simetris tidak ada pembesaran kelenjar limfe
j.        Abdomen       : tidak ada luka bekas oprasi
k.      Genetalia        : bersih, tidak oedem, tidak ada flur albus dan tidak ada varises
l.        Estremitas       : atas ( gerakan aktif, jari lengkap, tidak odem, akral hangat )
 Bawah (gerakan aktif, jari lengkap, tidak odem, akral hangat )
m.    Anus               : bersih, tidak ada hemoroid
n.      Punggung       : bersih, tidak ada kelainan tulang

6.      Status Obstetric
A.    Inspeksi
Eks atas          : tidak terdapat luka bekas jahitan
Genetalia        : bersih, tidak oedem, tidak ada flour albus dan tidak ada varises
Mamae            : simetris, membesar, putting susu menonjol, aerola menghitam, kelenjar molin gomeri tampak jelas.
Abdomen       : tidak ada strie gravidarum

B.     Palpasi
Mamae            : tidak ada benjolan abnormal pada kedua mamae
Abdomen       : teraba balottemen, TFU 3 jari diatas simpisis

I.       Harapan Keluarga
1.      Terhadap Masalah Kesehatan
Keluarga Tn.K berharap pada keluarganya terhindar dari berbagai penyakit dan masalah Ny.M mendapatkan asuhan yang sesuai.
2.      Terhadap Petugas Kesehatan Yang Ada
Keluarga Tn.K berharap petugas pelayanan kesehatan dapat memberikan informasi tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam anggota keluarga.






















Analisa Data

No
Data
Penyebab
Masalah
1.
Ds :
Ny. M mengatakan
“ saya hamil dan saya tidak KB sedangkan anak saya usianya masih kecil, masih membutuhkan kasih saying saya”
Do :
Diagnose kebidanan menunjukkan bahwa Ny.M mengalami kehamilan resti




·         Ny.M mengalami kehamilan yang jaraknya terlalu dekat

·         Kurangnya pemahaman Ny.M terhadap budaya kehamilan resti
2.
Ds :
Keluarga Ny.M mengatakan bahwa ada anggota keluarga yang lansia

·         Kurangnya kemampuan keluarga Tn.K dalam merawat anggota keluarga lansia

·         Kurangnya pemahaman tentang merawat lansia pada Tn.K










Prioritas Masalah


Diagnose         : Lansia
No.
Kriteria
Skala
Bobot
Scoring
Pembenahan
1
Sifat masalah skala ancaman kesehatan
2
1
2/3x1= 2/3
Bila keadaan tersebut tidak segera diatasi akan membahayakan lansia yang tinggal bersama tanpa pengawasan.
2
Kemungkinan masalah dapat diubah skala : mudah
2
2
2/2x2 = 2
Penyediaan sarana yang mudah dan mudah di dapat oleh kluarga
( missal : sandal karet )
3
Potensial maslah untuk dicegah skala : cukup
2
1
2/3x1= 2/3
Keluarga mempunyai kesibukan yang cukup tinggi, tetapi merawat orang tua yang lelah lansia merupakan penghormatan dan pengabdian anak yang perlu dilakukan.
4
Menonjolnya masalah skala : masalah tidak dirasakan
0
1
0/2x1=0
Keluarga merasa keadaan tersebut telah berlangsung lama dari tidak pernah ada kejadian yang mengakibatkan lansia mengalami suatu cidera ( terjatuh ) dirumah akibat lantai yang licin.

Total


2 4/3








Diagnosa         : Kehamilan Resiko Tinggi

No
Kriteria
Skala
Bobot
Scoring
Pembenaran
1
Sifat masalah
Situasi kritis
Skala : kurang sehat
1
1
1/3x1=1/3
Bila keadaan tersebut tidak segera ditangani akan membahayakan ibu hamil
2
Kemungkinan masalah dapat di ubah
Skala : sebagian
1
2
1/2x2=1
Tidak ada kesadaran dan cukup dana untuk memeriksakan dirinya ke pelayanan kesehatan
3
Potensial masalah untuk dicegah
Skala : cukup
2
1
2/3x1=2/3
Ibu mempunyai kebiasaan yang cukup tinggi tetapi memperhatikan kesehatan diri dan janin
4
Penonjolan masalah skala : ada maslah tetapi tidak perlu segera di tangani
1
1
1/2x1=1/2
Ibu meraskan keadaan tersebut telah berlangsung lama semenjak mengetahui bahwa dia hamil kejadian yang mengakibatkan ibu hamil mengalami resiko tinggi ini dapat terjadi selama hamil tua.

Total


3














Rencana Asuhan Kebidanan Keluarga
No
Diagnose
Tujuan
Evaluasi

Intervensi
Umum
Khusus
Kriterian
Standar

1
Resti ibu hamil pada Ny.M keluarga Tn.K
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan Ny.M dapat mengerti tentang bahaya kehamilan resti sehingga ibu bisa mengantisipasi jika ada masalah pada dirinya.
Setelah dilakukan kunjungan 1 hari selama 1 jam diharapkan pasien dan keluarga mampu memahami cirri-ciri resti dan mampu mengambil keputusan untuk berobat lebih lanjut pada akhir pertemuan keluarga sepakat jika diadakan evaluasi sewaktu-waktu
Ny.M dan keluarga bisa memahami dan menerapkan penyuluhan yang diberikan oleh tenaga kesehatan 
Setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang resiko tinggi kehamilan diharapkan Ny.M dan keluarga mampu menggerti tentang :
·    Pengertian resti ibu hamil
·    Tanda dan gejala ibu dengan resti
·    Cara antisipasi bila mengalami resti
·    Menganjurkan untuk periksa ketenaga kesehatan

Beri penjelasan tentang :
·    Pengertian resti ibu hamil
·    Member tahu Ny.M tentang tanda dan gejala ibu hamil dengan resti yaitu : jarak kelahiran < 2 th, pernah SC, TD > 160/110, anemia dll.
·    Memberitahu Ny.M tentang cara mengantisipasi jika mengalami kehamilan resti
·    Menganjurkan Ny.M untuk periksa ke tenaga kesehatan selama hamil


pada akhir pertemuan keluarga sepakat jika diadakan evaluasi sewaktu-waktu
Perilaku Ny.M melaksanakan apa yang sudah di peroleh dari penyuluhan

·  Memenuhi anjuran untuk mengetahui tanda dan gejala ibu hamil dengan resiko tinggi dan dapat mengantisipasi bila mengalami resiko tinggi.
·  Menjaga kebersihan lingkungan
·    Menjelaskan manfaat evaluasi sewaktu-waktu
·    Menjelaskan bahwa diskusi akan dilanjutkan jika hasil evaluasi tidak sesuai dengan keputusan yang telah dibuat keluarga
·    Menanggapi pertanyaan dengan sabar
·    Membimbing keluarga Ny.M mengulang penjelasan yang telah diberikan.



CATATAN ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA



No
Diagnose kebidanan
Implementasi dan evaluasi asuhan kebidanan keluarga
T.T/TGL/waktu
1
Resiko tinggi pada Ny.M keluarga Tn. K
1.      Menjelaskan tentang resiko tinggi ibu hamil pada Ny.M dan keluarga
Resiko tinggi ibu hamil
2.      Menjelaskan tanda dan gejala ibu hamil resti yaitu :
·         Jarak kelahiran < 2 tahun
·         Pernah SC
·         TD > 160/110 mmHg
·         Anemia dll
3.      Menjelaskan cara mengantisipasi bila mengalami resti
4.      Menganjurkan ibu untuk periksa ke tenaga kesehatan :
Menganjurkan Ny.M untuk periksa ke tenaga kesehatan selama hamil baik de polindes, puskesmas ataupun ke fasilitas kesehatan lainnya




Evaluasi :
1.      Keluarga mengetahui tentang resiko tinggi ibu hamil
2.      Keluarga mengerti tentang tanda dan gejala pada ibu hamil resti
3.      Ibu mengetahui cara mengantisipasi bila mengalami resti
4.      Ibu bersedia ke tenaga kesehatan terdekat apa bila mengalami tanda-tanda resti.