Rabu, 07 September 2016

Buku Ajar Mata Kuliah ASKEB III ( NIFAS )


A.    Deskripsi Singkat Mata Kuliah
Mata Kuliah ini memberikan kemampuan untuk melaksankan asuhan kebidanan pada masa nifas dan menyusui dengan pendekatan manajemen kebidanan yang didasari konsep – konsep, sikap dan ketrampilan serta hasil evidence based dengan pokok bahasan konsep dasar masa nifas, perubahan fisiologi masa nifas, perubahan psikologi masa nifas, faktor – faktor yang mempengaruhi masa nifas dan menyusui, kebutuhan dasar masa nifas, proses laktasi dan menyusui, respon orang tua dan BBL, deteksi dini komplikasi masa nifas, asuhan masa nifas normal, dan dokumentasi asuhan masa nifas dan menyusui.

B.     Relevansi
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang konsep dasar dalam masa nifas yang meliputi konsep dasar masa nifas, menggambarkan proses laktasi dan menyusui, menyebutkan macam-macam respon orang tua terhadap bayi, mengidentifikasi perubahan fisiologis dan psikologis masa nifas, menentukan kebutuhan dasar masa nifas, menerapkan asuhan fisik dan psikososial, merencanakan tindak lanjut asuhan nifas dirumah, menganalisis deteksi dini komplikasi masa nifas dan penanganannya dan dapat menyusun dokumentasi asuhan kebidanan masa nifas dalam bentuk laporan. Materi ini perlu dipahami seorang bidan agar nantinya bidan dapat melakukan asuhan kebidanan dalam masa nifas dengat tepat.
C.    Capaian Pembelajaran dan Kemampuan Akhir yang Diharapkan

NO
Capaian Pembelajaran
Kemampuan Akhir yang Diharapkan
1.       







Mampu mendiskripsikan konsep dasar asuhan masa nifas




  1. Mendiskripsikan pengertian masa nifas
  2. Mendiskripsikan tujuan asuhan masa nifas
  3. Mendiskripsikan peran dan tanggung bidan      dalam asuhan masa nifas
  4. Mendiskripsikan tahapan masa  nifas
  5. Mendiskripsikan kebijakan program nasional asuhan masa nifas

Kontrak Perkuliahan ASKEB III ( NIFAS )


logo baru stikes karya husada semarang
KONTRAK PERKULIAHAN
ASKEB III ( NIFAS )


PROGRAM STUDI             : DIII KEBIDANAN
MATA KULIAH                  : ASUHAN KEBIDANAN III ( NIFAS )
KODE MATA KULIAH     : BD.303
SEMESTER                          : III
HARI/ PERTEMUAN          : SELASA s/d JUM’AT
SKS                                        : 4 SKS (T:2 P:2)
DOSEN PENGAMPU         : HERLIN FITRIYANTI, S.Tr.Keb


I.         Manfaat Mata Kuliah
Manfaat yang diperoleh setelah menempuh mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas (ASKEB III) diharapkan mahasiswa menjadi lebih kompeten dalam melakukan asuhan yang komprehensif pada masa nifas yaitu menjabarkan konsep dasar masa nifas, menggambarkan proses laktasi dan menyusui, menyebutkan macam-macam respon orang tua terhadap bayi, mengidentifikasikan perubahan fisiologis masa nifas, mengidentifikasikan adaptasi psikologi masa nifas, menentukan kebutuhan dasar masa nifas, menerapkan asuhan fisik dan psikososial, merencanakan tindak lanjut asuhan nifas di rumah, menganalisis deteksi dini komplikasi masa nifas dan penanganannya, dan menyusun dokumentasi asuhan kebidanan masa nifas dalam bentuk laporan.
Kontrak Perkuliahan ini Dapat Di Download di :

RPS Mata Kuliah ASKEB III (NIFAS)


A.    Deskripsi Singkat Mata Kuliah
Mata Kuliah ini memberikan kemampuan untuk melaksanakan asuhan kebidanan pada masa nifas dan menyusui dengan pendekatan manajemen kebidanan yang didasari konsep – konsep.

B.     Kegunaan/Manfaat Mata Kuliah
Dengan adanya mata kuliah asuhan kebidanan III (nifas) diharapkan mahasiswa menjadi lebih kompeten dan lebih profesional dalam memberikan dan menerapkan asuhan kebidanan masa nifas.

C.    Kemampuan Akhir yang Diharapkan

Standar kompetensi mata kuliah asuhan kebidanan III (nifas) adalah mahasiswa diharapkan mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas normal dan dapat mendeteksi dini komplikasi masa nifas

D.    Susunan Urutan Bahan Ajar

1.      Konsep dasar masa nifas
Pengertian masa nifas, Tujuan asuhan masa nifas, Peran dan tanggung bidan dalam asuhan masa nifas, Tahapan masa  nifas, Kebijakan program nasional asuhan masa nifas
2.      Perubahan fisiologi masa nifas
Sistem reproduksi, system pencernaan, system perkemihan, system muskuluskeletal pada ibu nifas, sistem endokrin, sistem kardiovaskuler, sistem hemotologi, sistem pernafasan
3.      Perubahan psikologi masa nifas
Taking In, Taking hold, Letting go
4.      Faktor – faktor yang mempengaruhi masa nifas dan menyusui
Fisik, Psikologis, Lingkungan, Sosial, Budaya, Ekonomi
5.      Kebutuhan dasar masa nifas
Nutrisi dan cairan, Ambulasi, Eliminasi: bak/bab, Istirahat, Personal Higiene, Seksual, Olah Raga / senam nifas
6.      Proses laktasi dan menyusui
Anatomi dan fisiologi payudara (review), Dukungan bidan dalam pemberian ASI, Manfaat pemberian ASI, Komposisi Gizi dalam ASI, Upaya memperbanyak ASI, Tanda bayi cukup ASI, ASI eksklusif, Cara merawat payudara, Cara menyusui yang benar, Masalah dalam pemberian ASI
7.      Respon orang tua dan BBL
Bounding attachment, Respon ayah dan keluarga, Sibling rivaldi
8.      Deteksi dini komplikasi masa nifas
Pengertian deteksi dini komplikasi pada masa nifas, Tujuan deteksi dini komplikasi pada masa nifas, Macam-macam komplikasi yang sering timbul pada masa nifas dan upaya penangannannya : perdarahan , infeksi masa nifas, sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur, pembengkakan di wajah atau ekstrimitas, demam, muntah, rasa sakit waktu berkemih, perubahan payudara, kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama, perubahan pada ekstremitas, perubahan psikologis
9.      Asuhan masa nifas normal
Pengkajian fisik dan psikologis, Pengkajian riwayat kesehatan ibu, Pemeriksaan fisik (Tanda-tanda vital, Payudara, Uterus, Kandung kemih, Genetalia, Perineum, Ekstrimitas bawah), Pengkajian psikologis, Pengkajian pengetahuaan ibu tentang perawatan pada masa nifas, Interpretasi Data : diagnosa/ masalah aktual (Masalah nyeri, Masalah infeksi, Masalah cemas, perawatan perineum, payudara, ASI ekslusif, Masalah KB, Gizi, tanda bahaya, senam), Rumusan diagnosa/ masalah Potensial (Gangguan perkemihan : BAB, Hubungan seksual), Rencana asuhan kebidanan (monitoring tanda-tanda vital, monitoring involusio, monitoring perdarahan, nyeri, infeksi, cemas, KIE (Perawatan tentang  perineum, payudara, ASI ekslusif, KB, Gizi, tanda bahaya, senam,Teknik menyusui bayi, Persiapan  menjadi orang tua, Persiapan pasien pulang, Anticipatori guidance), Pelaksanaan tindakan mandiri dan kolaborasi asuhan kebidanan (Tindakan mandiri, Kolaborasi, KIE/Pendidikan kesehatan,Evaluasi asuhan kebidanan dan tindak lanjut), Dokumentasi asuhan masa nifas dan menyusui.


Kamis, 31 Maret 2016

A B C D E DALAM GAWAT DARURAT

A B C D E DALAM KEGAWAT DARURATAN








Tubuh kita dapat bertahan dalam beberapa minggu tanpa makanan dan beberapa hari tanpa air. Tapi tubuh kita tidak dapat bertahan jika tanpa Oksigen. Dalam penanganan gawat darurat, kecepatan dan kualitas pertolongan sangat di butuhkan untuk mencapai keberhasilan dan dalam penyelamatan. Untuk itu di dunia international sudah menetapkan rumusan dalam menangani Penderita Gawat Darurat, yaitu : ABCDE (Air Way, Breathing and Ventilation, Circulation, Disability, Exposure). Airway ditempatkan pada urutan pertama karena masalah airway akan mematikan paling cepat. Komponen yang penting dari sistem pernapasan adalah hidung dan mulut, faring, epiglotis, trakea, laring, bronkus dan paru. Kalian juga dapat melihat Materi tentang Konsep Pelayanan Gawat Darurat yang kalian bisa lihat di sini

I.            PENDAHULUAN
Keberhasilan dalam penanggulangan penderita Gawat Darurat (PPGD) sangat bergantung dari kecepatan dan kualitas pertolongan yang didapat penderita. Disini harus selalu diingat bahwa :
1.      Kematian oleh karena sumbatan jalan nafas akan lebih cepat daripada kematian karena kemampuan bernafas
2.      Kematian oleh karena ketidakmampuan bernafas akan lebih cepatdaripada kematian karena kehilangan darah
3.      Kematian berikutnya akan diikuti oleh karena penyebab intra kranial
Karena itu dalam PPGD apapun penyebabnya urutan pertolongan adalah sebagai berikut :
A : Air way, with cervical spine control
B : Breathing and Ventilation
C : Circulation with haemorrhage control
D : Disability on neurologic status
E  : Exposure/Undress with temperature control

II.            AIR WAY MANAGEMENT
Ketidakmampuan untuk memberikan oksigenasi ke jaringan tubuh terutama ke otak dan organ vital yang lain merupakan pembunuh tercepat pada pasien. Oleh karena itu airway yang baik merupakan prioritas pertama pada setiap penderita gawat darurat.
Kematian-kematian dini karena masalah airway :
1.      Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan airway
2.      Ketidakmampuan untuk membuka airway
3.      Kegagalan mengetahui adanya airway yang dipasang secara keliru
4.      Perubahan letak airway yang sebelumnya telah dipasang
5.      Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan ventilasi
6.      Aspirasi isi lambung, darah

Pengenalan Masalah
Gangguan airway dapat timbul secara total & mendadak tetapi sebaliknya bisa secara bertahap dan pelan-pelan. Takhipnea merupakan tanda awal yang samar-samar akan adanya gangguan terhadap airway. Adanya ketakutan & gelisah merupakan tanda hipoksia oleh karena itu harus selalu secara berulang-ulang kita nilai airway ini terutama pada penderita yang tidak sadar. Penderita dengan gangguan kesadaran oleh karena cidera kepala obat-obatan atau alkohol, cedera toraks, aspirasi material muntah atau tersedak mungkin sekali terjadi gangguan airway. Disini diperlukan intubasi endotrakheal yang bertujuan :
1.      Membuka airway
2.      Memberikan tambahan oksigen
3.      Menunjang ventilasi
4.      Mencegah aspirasi

Tanda-tanda Obyektif Sumbatan Airway
1.      Look
Terlihat pasien  gelisah dan perubahan kesadaran. Ini merupakan gejala adanya hipoksia dan hipercarbia. Pasien terlihat cyanosis terutama pada kulit sekitar mulut, ujung jari kuku. Juga terlihat adanya kontraksi dari otot pernafasan tambahan.
2.      Listen
Disini kita dengarkan apakah ada suara seperti orang ngorok, kumur-kumur, bersiul, yang mungkin berhubungan dengan adanya sumbatan partial pada farink/larink.
3.      Feel
Kita bisa rasakan bila ada sumbatan udara terutama pada saat ekspirasi bila kedudukan trackhea di linea media

Management
Pengenalan adanya gangguan jalan nafas & ventilasi harus bisa dilakukan secara cepat & tepat. Bila memang ada harus secepatnya gangguan jalan nafas dan ventilasi ini untuk segera diatasi. Hal penting ini untuk menjamin oksigenasi ke jaringan. Haruslah diingat setiap tindakan untuk menjamin airway yang baik harus selalu dengan penekanan untuk selalu menjaga cervical spine terutama pada penderita dengan trauma dan cedera di atas clavikula. Pada setiap penderita dengan gangguan saluran nafas, harus selalu secara cepat diketahui apakah ada benda asing, cairan isi lambung, darah di saluran nafas bagian atas. Kalau ada harus segera dicoba untuk dikeluarkan bisa dengan jari, suction. Suatu saat bila dilapangan ada penderita dengan sumbatan jalan nafas misal tersedak makanan abdominal trust akan sangat berguna.
1.      Teknik-teknik mempertahankan airway :
Pada penderita dengan kehilangan kesadaran mungkin sekali lidah akan jatuh ke belakang dan menutupi hipofarink dan menimbulkan sumbatan jalan nafas. Ini bisa ditolong dengan jalan :
a.       Chin lift
b.      Jaw thrust
c.       Orofaringeal tube
d.      Nasofaringeal tube
2.      Airway definitif
Disini ada pipa dalam trakhea dengan balon yang dikembangkan, dimana pipa ini dihubungkan dengan alat bantu pernafasan yang diperkaya dengan oksigen. Cara : oratracheal, nasotracheal & surgical (krikotiroidotomi atau trakheotomi). Indikasi pemasangan airway definitif bila ditemukan adanya temuan klinis :
a.       Apnue
b.      Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara yang lain
c.       Untuk melindungi airway bagian bawah dari aspirasi darah atau muntahan
d.      Adanya ancaman segera sumbatan airway oleh karena cidera inhalasi patah tulang wajah hematoma retropharingeal
Cidera kepala tertutup yang memrlukan bantuan nafas (GCS ≤8). Dari ketiga cara ini yang terbanyak dipakai adalah endotrakheal (naso/orotrakheal). Pemilihan naso/orotrakheal intubation tergantung pengalaman dokter. Kedua teknik ini aman dan efektif bila dilakukan dengan tepat. Haruslah diingat pada pemasangan endotrakheal tube ini harus selalu dijaga aligment dari columna vertebralis dengan cervikal.
3.      Airway definitif surgical
Ini dikerjakan bila ada kesukaran atau kegagalan didalam memasang endotrakheal intubasi. Pada keadaan yang membutuhkan kecepatan lebih dipilih krikotireodektomi dari pada tracheostomi.
a.       Needle cricothyroidoktomi
Cara dengan menusukkan jarum lewat membran krikotiroid, ini hanya bisa memberikan oksigen dalam waktu yang pendek (30-45 menit). Disini dipakai jarum no 12-14 (anak 16-18 tahun)
b.      Surgical cricothyroidoktomi
Penderita tidur posisi supinasi sesudah dilakukan anestesi lokal buat irisan kulit tranversal sampai membran cricothyroid lubang ini bisa dilebarkan dengan gagang pisau dengan cara memutar 90 derajad. Disini bisa dipakai tracheostomi tube atau endotracheal tube. Hati-hati dengan cartilago cricoid terutama pada anak-anak (teknik ini tidak dianjurkan pada anak dibawah 12 tahun), hal ini dikarenakan cartilago cricoid merupakan penyangga trachea bagian atas. Komlikasi :
1)      Aspirasi
2)      Salah masuk ke dalam jaringan
3)      Stenosis/oedema subglotis
4)      Stenosis laringeal
5)      Perdarahan/hematom
6)      Laserasi esophagus
7)      Laserasi trachea
8)      Emphisema mediastinal
9)      Paralisis pita suara

III.            BREATHING AND VENTILATION
Jalan nafas yang baik dan lancar belum tentu menjamin ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik sangat bergantung dari fungsi paru, dinding dada dan diafragma. Penyebab gangguan breathing :
1.      Pleural effusion
2.      Pneumothoraks (open dan tension)
3.      Hemothoraks
4.      Traumatic wet lung syndrome
Pertolongan untuk memperbaiki breathing :
1.   Tension pneumothorax :
·     Tusuk dengan jarum yang besar pada sela antar iga II
·     Pemasangan chest tube pada sela antar iga IV
2.  Hemothorax dengan pemasangan chest tube
3.  Open pneumothorax segera ditutup dengan kasa vasein
4.  Fail chest diberi analgetika

IV.            CIRCULATION WITH HAEMORRAHAGE CONTROL
Penyebab terbesar pasien yang mengalami shook dan berakhir dengan kematian adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak. Oleh karenanya pasien dengan trauma dan hipotensi, harus segera ditangani sebagai pasien hipovolemi sampai bisa dibuktikan bahwa hipotensinya disebabkan oleh sebab yang lain. Seperti diketahui, volume darah manusia dewasa adalah 7% dari berat badan, anak 8-9% dari BB. Terapi resusitasi cairan yang agresif harus segera dimulai begitu ada tanda dan gejala klinis adanya kehilangan darah muncul. Sangatlah berbahaya bila menunggu sampai tekanan darah menurun. Untuk menilai apakah resusitasi cairan yang diberikan sudah cukup atau belum :
·     Tanda vital
·     Produksi urine
·     CVP
Penyebab hipovolemia adalah :
·     Cidera rongga perut
·     Cidera rongga dada
·     Fraktur pelvis
·     Fraktur femur
·     Luka tembus pembuluh darah besar
·     Perdarahan diluar tubuh dari berbagai tempat

V.            DISABILITY (NEUROLOGIC EVALUATION)
Evaluasi secara cepat dilakukan dan dikerjakan pada tahap akhir dan primary survey dengan menilai kesadaran dan pupil penderita.
A : Alert
V : Respon to vokal stimulation
P : respon only to painful stimulation
U : Unresponsive
Glasgow coma scale merupakan penilaian yang lebih rinci, bila ini tidak dikerjakan di primary survey bisa dikerjakan di secondary survey.
                                                     

VI.            EXPOSURE
Disini semua pakaian pasien dibuka. Hal ini akan sangat membantu pemeriksaan lebih lanjut. Harus diingat disini pasien dijaga agar tidak jatuh ke hipotermia dengan jalan diberikan selimut.

VII.            SECONDARY SURVEY
Dikerjakan bila primary survey dan resusitasi selesai dilakukan. Disini dilakukan evaluasi yang lebih teliti mulai dari kepala sampai ujung kaki penderita, juga GCS bisa dikerjakan lebih teliti bila pada primary survey belum sempat dikerjakan. Pemeriksaan laboratorium, evaluasi, radiologi dan peritoneal lavage bisa dikerjakan.

Tubuh kita dapat bertahan dalam beberapa minggu tanpa makanan dan beberapa hari tanpa air. Tapi tubuh kita tidak dapat bertahan jika tanpa Oksigen. Dalam penanganan gawat darurat, kecepatan dan kualitas pertolongan sangat di butuhkan untuk mencapai keberhasilan dan dalam penyelamatan. Untuk itu di dunia international sudah menetapkan rumusan dalam menangani Penderita Gawat Darurat, yaitu : ABCDE (Air Way, Breathing and Ventilation, Circulation, Disability, Exposure). Airway ditempatkan pada urutan pertama karena masalah airway akan mematikan paling cepat. Komponen yang penting dari sistem pernapasan adalah hidung dan mulut, faring, epiglotis, trakea, laring, bronkus dan paru. Kalian juga dapat melihat Materi tentang Konsep Pelayanan Gawat Darurat yang kalian bisa lihat di sini

I.            PENDAHULUAN
Keberhasilan dalam penanggulangan penderita Gawat Darurat (PPGD) sangat bergantung dari kecepatan dan kualitas pertolongan yang didapat penderita. Disini harus selalu diingat bahwa :
1.      Kematian oleh karena sumbatan jalan nafas akan lebih cepat daripada kematian karena kemampuan bernafas
2.      Kematian oleh karena ketidakmampuan bernafas akan lebih cepatdaripada kematian karena kehilangan darah
3.      Kematian berikutnya akan diikuti oleh karena penyebab intra kranial
Karena itu dalam PPGD apapun penyebabnya urutan pertolongan adalah sebagai berikut :
A : Air way, with cervical spine control
B : Breathing and Ventilation
C : Circulation with haemorrhage control
D : Disability on neurologic status
E  : Exposure/Undress with temperature control

II.            AIR WAY MANAGEMENT
Ketidakmampuan untuk memberikan oksigenasi ke jaringan tubuh terutama ke otak dan organ vital yang lain merupakan pembunuh tercepat pada pasien. Oleh karena itu airway yang baik merupakan prioritas pertama pada setiap penderita gawat darurat.
Kematian-kematian dini karena masalah airway :
1.      Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan airway
2.      Ketidakmampuan untuk membuka airway
3.      Kegagalan mengetahui adanya airway yang dipasang secara keliru
4.      Perubahan letak airway yang sebelumnya telah dipasang
5.      Kegagalan mengetahui adanya kebutuhan ventilasi
6.      Aspirasi isi lambung, darah

Pengenalan Masalah
Gangguan airway dapat timbul secara total & mendadak tetapi sebaliknya bisa secara bertahap dan pelan-pelan. Takhipnea merupakan tanda awal yang samar-samar akan adanya gangguan terhadap airway. Adanya ketakutan & gelisah merupakan tanda hipoksia oleh karena itu harus selalu secara berulang-ulang kita nilai airway ini terutama pada penderita yang tidak sadar. Penderita dengan gangguan kesadaran oleh karena cidera kepala obat-obatan atau alkohol, cedera toraks, aspirasi material muntah atau tersedak mungkin sekali terjadi gangguan airway. Disini diperlukan intubasi endotrakheal yang bertujuan :
1.      Membuka airway
2.      Memberikan tambahan oksigen
3.      Menunjang ventilasi
4.      Mencegah aspirasi

Tanda-tanda Obyektif Sumbatan Airway
1.      Look
Terlihat pasien  gelisah dan perubahan kesadaran. Ini merupakan gejala adanya hipoksia dan hipercarbia. Pasien terlihat cyanosis terutama pada kulit sekitar mulut, ujung jari kuku. Juga terlihat adanya kontraksi dari otot pernafasan tambahan.
2.      Listen
Disini kita dengarkan apakah ada suara seperti orang ngorok, kumur-kumur, bersiul, yang mungkin berhubungan dengan adanya sumbatan partial pada farink/larink.
3.      Feel
Kita bisa rasakan bila ada sumbatan udara terutama pada saat ekspirasi bila kedudukan trackhea di linea media

Management
Pengenalan adanya gangguan jalan nafas & ventilasi harus bisa dilakukan secara cepat & tepat. Bila memang ada harus secepatnya gangguan jalan nafas dan ventilasi ini untuk segera diatasi. Hal penting ini untuk menjamin oksigenasi ke jaringan. Haruslah diingat setiap tindakan untuk menjamin airway yang baik harus selalu dengan penekanan untuk selalu menjaga cervical spine terutama pada penderita dengan trauma dan cedera di atas clavikula. Pada setiap penderita dengan gangguan saluran nafas, harus selalu secara cepat diketahui apakah ada benda asing, cairan isi lambung, darah di saluran nafas bagian atas. Kalau ada harus segera dicoba untuk dikeluarkan bisa dengan jari, suction. Suatu saat bila dilapangan ada penderita dengan sumbatan jalan nafas misal tersedak makanan abdominal trust akan sangat berguna.
1.      Teknik-teknik mempertahankan airway :
Pada penderita dengan kehilangan kesadaran mungkin sekali lidah akan jatuh ke belakang dan menutupi hipofarink dan menimbulkan sumbatan jalan nafas. Ini bisa ditolong dengan jalan :
a.       Chin lift
b.      Jaw thrust
c.       Orofaringeal tube
d.      Nasofaringeal tube
2.      Airway definitif
Disini ada pipa dalam trakhea dengan balon yang dikembangkan, dimana pipa ini dihubungkan dengan alat bantu pernafasan yang diperkaya dengan oksigen. Cara : oratracheal, nasotracheal & surgical (krikotiroidotomi atau trakheotomi). Indikasi pemasangan airway definitif bila ditemukan adanya temuan klinis :
a.       Apnue
b.      Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara yang lain
c.       Untuk melindungi airway bagian bawah dari aspirasi darah atau muntahan
d.      Adanya ancaman segera sumbatan airway oleh karena cidera inhalasi patah tulang wajah hematoma retropharingeal
Cidera kepala tertutup yang memrlukan bantuan nafas (GCS ≤8). Dari ketiga cara ini yang terbanyak dipakai adalah endotrakheal (naso/orotrakheal). Pemilihan naso/orotrakheal intubation tergantung pengalaman dokter. Kedua teknik ini aman dan efektif bila dilakukan dengan tepat. Haruslah diingat pada pemasangan endotrakheal tube ini harus selalu dijaga aligment dari columna vertebralis dengan cervikal.
3.      Airway definitif surgical
Ini dikerjakan bila ada kesukaran atau kegagalan didalam memasang endotrakheal intubasi. Pada keadaan yang membutuhkan kecepatan lebih dipilih krikotireodektomi dari pada tracheostomi.
a.       Needle cricothyroidoktomi
Cara dengan menusukkan jarum lewat membran krikotiroid, ini hanya bisa memberikan oksigen dalam waktu yang pendek (30-45 menit). Disini dipakai jarum no 12-14 (anak 16-18 tahun)
b.      Surgical cricothyroidoktomi
Penderita tidur posisi supinasi sesudah dilakukan anestesi lokal buat irisan kulit tranversal sampai membran cricothyroid lubang ini bisa dilebarkan dengan gagang pisau dengan cara memutar 90 derajad. Disini bisa dipakai tracheostomi tube atau endotracheal tube. Hati-hati dengan cartilago cricoid terutama pada anak-anak (teknik ini tidak dianjurkan pada anak dibawah 12 tahun), hal ini dikarenakan cartilago cricoid merupakan penyangga trachea bagian atas. Komlikasi :
1)      Aspirasi
2)      Salah masuk ke dalam jaringan
3)      Stenosis/oedema subglotis
4)      Stenosis laringeal
5)      Perdarahan/hematom
6)      Laserasi esophagus
7)      Laserasi trachea
8)      Emphisema mediastinal
9)      Paralisis pita suara

III.            BREATHING AND VENTILATION
Jalan nafas yang baik dan lancar belum tentu menjamin ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik sangat bergantung dari fungsi paru, dinding dada dan diafragma. Penyebab gangguan breathing :
1.      Pleural effusion
2.      Pneumothoraks (open dan tension)
3.      Hemothoraks
4.      Traumatic wet lung syndrome
Pertolongan untuk memperbaiki breathing :
1.   Tension pneumothorax :
·     Tusuk dengan jarum yang besar pada sela antar iga II
·     Pemasangan chest tube pada sela antar iga IV
2.  Hemothorax dengan pemasangan chest tube
3.  Open pneumothorax segera ditutup dengan kasa vasein
4.  Fail chest diberi analgetika

IV.            CIRCULATION WITH HAEMORRAHAGE CONTROL

Penyebab terbesar pasien yang mengalami shook dan berakhir dengan kematian adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak. Oleh karenanya pasien dengan trauma dan hipotensi, harus segera ditangani sebagai pasien hipovolemi sampai bisa dibuktikan bahwa hipotensinya disebabkan oleh sebab yang lain. Seperti diketahui, volume darah manusia dewasa adalah 7% dari berat badan, anak 8-9% dari BB. Terapi resusitasi cairan yang agresif harus segera dimulai begitu ada tanda dan gejala klinis adanya kehilangan darah muncul. Sangatlah berbahaya bila menunggu sampai tekanan darah menurun. Untuk menilai apakah resusitasi cairan yang diberikan sudah cukup atau belum :
·     Tanda vital
·     Produksi urine
·     CVP
Penyebab hipovolemia adalah :
·     Cidera rongga perut
·     Cidera rongga dada
·     Fraktur pelvis
·     Fraktur femur
·     Luka tembus pembuluh darah besar
·     Perdarahan diluar tubuh dari berbagai tempat

V.            DISABILITY (NEUROLOGIC EVALUATION)
Evaluasi secara cepat dilakukan dan dikerjakan pada tahap akhir dan primary survey dengan menilai kesadaran dan pupil penderita.
A : Alert
V : Respon to vokal stimulation
P : respon only to painful stimulation
U : Unresponsive
Glasgow coma scale merupakan penilaian yang lebih rinci, bila ini tidak dikerjakan di primary survey bisa dikerjakan di secondary survey.
                                                     

VI.            EXPOSURE
Disini semua pakaian pasien dibuka. Hal ini akan sangat membantu pemeriksaan lebih lanjut. Harus diingat disini pasien dijaga agar tidak jatuh ke hipotermia dengan jalan diberikan selimut.

VII.            SECONDARY SURVEY

Dikerjakan bila primary survey dan resusitasi selesai dilakukan. Disini dilakukan evaluasi yang lebih teliti mulai dari kepala sampai ujung kaki penderita, juga GCS bisa dikerjakan lebih teliti bila pada primary survey belum sempat dikerjakan. Pemeriksaan laboratorium, evaluasi, radiologi dan peritoneal lavage bisa dikerjakan.